Setahun Program MBG, Ahli Gizi UGM Soroti Keracunan Anak dan Risiko UPF
Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Caturtunggal, Kabupaten Sleman, DIY, saat hari kelima, Jumat (17/1/2025). --Foto: Anam AK/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjgogja.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dijalankan selama setahun di Indonesia mulai menimbulkan sorotan terkait keamanan pangan dan kualitas menu anak sekolah.
Meskipun bertujuan memperbaiki gizi anak dan mencegah stunting, implementasi program ini masih memerlukan evaluasi menyeluruh.
Kasus keracunan massal yang menimpa anak-anak menjadi salah satu perhatian penting, mengingat MBG merupakan investasi kesehatan jangka panjang untuk generasi penerus bangsa.
Dosen Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM, Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, menyebutkan bahwa program school lunch seperti MBG memiliki tujuan mulia, yaitu mencetak generasi masa depan menuju Indonesia Emas 2045.
BACA JUGA : Kritik Menu MBG Muncul, BGN Tegaskan Tak Ada Paksaan Anak Masuk Sekolah Saat Libur
BACA JUGA : BGN dan Sri Sultan Bahas Lumbung Mataram untuk Jamin Bahan Baku MBG
“Terlepas dari agenda politik, program school lunch ini sudah diterapkan di berbagai negara dan merupakan kewajiban negara terhadap warga negaranya,” ujar Mirza dalam keterangan tertulis, Jumat (9/1/2026).
Mirza menyebutkan, penyelenggaraan MBG masih menghadapi risiko keracunan massal akibat pengawasan yang kurang ketat di setiap proses penyiapan makanan. Untuk itu, ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap produksi dan distribusi makanan.
“Setiap sekolah sebaiknya bertanggung jawab menyediakan makan siang sendiri. Dengan cakupan yang lebih kecil, pengawasan bisa lebih efektif, dan kesalahan distribusi maupun keamanan pangan dapat diminimalisir,” katanya.
Ahli gizi UGM ini juga menyoroti aturan yang perlu diacu, seperti Peraturan Menteri Kesehatan tentang tata kelola penyelenggaraan makanan. Anak-anak dan ibu hamil termasuk kelompok risiko tinggi yang penanganannya tidak bisa main-main. Selain itu, Mirza menekankan potensi risiko dari penggunaan ultra processed food (UPF) dalam menu MBG.
BACA JUGA : Kenduri dan Doa di UGM, Emak-emak Desak Bencana Sumatera Jadi Nasional dan MBG Diprioritaskan
BACA JUGA : Program MBG Dievaluasi, BGN Tutup SPPG Tak Penuhi Standar di Yogyakarta
“Anak-anak diberi UPF dengan natrium, gula tambahan, dan lemak. Dampaknya mungkin tidak terlihat sekarang, tapi 10–15 tahun ke depan bisa menjadi bom waktu penyakit kronis,” tuturnya.
Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan MBG tidak bisa diukur secara instan. Dampak gizi baru akan terlihat setelah satu siklus pendidikan, sekitar 10–15 tahun. Ia mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal yang beragam sesuai kultur masing-masing daerah untuk mengurangi risiko makanan tidak cocok dengan kondisi anak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: