Pada titik itu, tangannya bergerak lebih pelan, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang meleset.
Sedikit kesalahan saja, bentuk blangkon bisa berubah dan kehilangan karakter.
BACA JUGA : Depok Perkuat Digitalisasi Pajak, 34 Objek Usaha Jadi Penopang PAD Sleman
BACA JUGA : Video Viral Diduga Tawuran Remaja di Sleman Ternyata Bukan Bentrok, Polisi Amankan Tiga Pelajar
Bagian sap-sapan bukan hanya urusan teknis. Di dalamnya ada filosofi keteraturan.
Ia menyebut, setiap susunan lipatan memiliki hitungan tertentu.
“Ada hitungan tertentu. Standar itu 17,” tambahnya.
Ia menuturkan bahwa sebagian elemen blangkon menyiratkan nilai keislaman.
“Melambangkan kita Islam,” lanjutnya perlahan, sembari menunjukkan bagian lipatan yang disusun berlapis.
BACA JUGA : Dua Kasus Korupsi Guncang Sleman, Bupati Janji Perbaiki Tata Kelola
BACA JUGA : PBB-P2 Sleman Dipastikan Transparan, Pajak Difokuskan untuk Pembangunan Publik
Ia menjelaskan, angka 17 pada blangkon merujuk pada jumlah rakaat dalam salat wajib sehari semalam.
“17 menjalankan 17 sholat rokaat,” pungkasnya.
Di titik inilah keterampilan teknis bertemu keyakinan, tradisi disusun dalam lipatan yang terukur, tetapi tetap menyimpan nilai ruhani.
Tak berhenti di situ, blangkon juga menyimpan simbol lain.
Pada beberapa model, terdapat lima lipatan utama di bagian tertentu.