Makna Iman di Balik Lipatan Blangkon Sleman
Seorang perajin sepuh menyusun lipatan blangkon di rumahnya di Sleman. Setiap detail lipatan dikerjakan manual sebagai simbol iman dan warisan tradisi Jawa.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Di sebuah rumah tua di Sleman, selembar kain lurik kembali disulap menjadi blangkon.
Di tangan seorang perajin sepuh, setiap lipatan bukan hanya urusan estetika, tetapi juga cara menjaga keyakinan, nilai, dan warisan budaya.
Di tengah derasnya produksi massal, blangkon buatannya tetap menjadi magnet tradisi, menarik orang untuk kembali melihat makna di balik benda sederhana itu.
Ia bercerita, kini tidak semua model blangkon yang sarat simbol masih diproduksi.
“Kalau sekarang nggak ada, karena pembeli tidak memesan,” kata Muhammad Khoirudin, perajin blangkon tertua di dusun Beji, Sabtu (3/1/2025).
BACA JUGA : Magnet Tradisi dari Beji Sleman, Rahasia 17 Lipatan dan Filosofi Blangkon
BACA JUGA : Blangkon Beji Bangkit, Media dan Pemkab Sleman Bersinergi Promosikan Warisan Budaya
Pasar bergerak cepat, tren berganti, namun sebagian nilai lama masih bertahan dalam ingatan dan praktik para perajin tua.
Dulu blangkon dibuat dengan pakem tertentu. Ada hitungan, ada filosofi, ada pesan hidup.
“Kalau yang tua, biasanya standar. Yang tua masih dihitung,” tuturnya.
Setiap angka pada lipatan memiliki arti, dan angka itu tidak diletakkan sembarangan. Di sanalah tradisi bertemu keyakinan.
Salah satunya adalah simbol angka enam, yang dimaknai sebagai landasan iman.
BACA JUGA : Blangkon Beji, Warisan Turun-Temurun yang Hidup di Ujung Timur Godean
BACA JUGA : Taman Semar Ndalil Sleman, Model Ketahanan Pangan Desa
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: