Magnet Tradisi dari Beji Sleman, Rahasia 17 Lipatan dan Filosofi Blangkon
Muhammad Khoirudin, perajin blangkon tertua di Dusun Beji, Kabupaten Sleman, memperlihatkan proses pembuatan sap-sapan dan dalaman blangkon di ruang kerjanya--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Di sebuah sudut Dusun Beji, kabupaten Sleman, terdengar suara jarum dan kain bersahutan, menandai aktivitas harian Muhammad Khoirudin, perajin blangkon tertua di dusun tersebut.
Di usianya yang senja, ia tetap tekun mengolah kain menjadi blangkon, salah satu simbol identitas budaya Jawa, dengan kesabaran dan ketelitian yang menjadi magnet bagi penikmat seni tradisi.
“Dalemannya disiapkan sambil menunggu hidungnya kering, sambil bikin dalemannya ini,” katanya sambil menata kain dan dakron, Kamis (1/1/2025).
Proses ini menjadi bagian penting agar blangkon yang dibuat rapi dan nyaman dipakai.
Setiap langkah dalam membuat blangkon memiliki makna tersendiri.
BACA JUGA : Blangkon Beji Bangkit, Media dan Pemkab Sleman Bersinergi Promosikan Warisan Budaya
BACA JUGA : Blangkon Beji, Warisan Turun-Temurun yang Hidup di Ujung Timur Godean
Salah satunya adalah pembuatan congkeng, komponen daleman blangkon yang sering luput dari perhatian.
“Ini namanya congkeng,” ujarnya sambil memperlihatkan bagian kecil yang nantinya menjadi penopang bentuk blangkon.
Dalam proses pembuatan mendol, Khoirudin juga menggunakan dakron sebagai isian agar blangkon tidak mudah penyok.
"Ini pakai dakron. Awalnya buat malnya. Dalemannya buat mal, nanti kalau sudah kering,” ucapnya.
Ia kemudian memperagakan cara mengikat salah satu bagian agar blangkon siap dijahit dan dibentuk sesuai pola.
BACA JUGA : Sleman Magnet Wisatawan Nataru 2025-2026, 437 Ribu Pengunjung
BACA JUGA : Kadin–Disperindag Sleman Dorong Investasi Berbasis Lokal, Sleman Utara Jadi Kawasan Ekonomi Baru
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: