Hujan Mulai Menyentuh Puncak Merapi, Intensitas tertinggi Tercatat Pada 30 September

Hujan Mulai Menyentuh Puncak Merapi, Intensitas tertinggi Tercatat Pada 30 September

Hujan telah tercatat di sekitar gunung, dengan intensitas tertinggi mencapai 46,96 milimeter per jam selama 92 menit di Pos Babadan pada 30 September 2026.--FOTO : Istimewa-Dok, BPPTKG

SLEMAN, diswayjogja.id – Saat sebagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta masih belum ada yang diguyur hujan, kondisi berbeda mulai terjadi di kawasan puncak Gunung Merapi. Hujan telah tercatat di sekitar gunung, dengan intensitas tertinggi mencapai 46,96 milimeter per jam selama 92 menit di Pos Babadan pada 30 September 2026.

Data tersebut tercantum dalam laporan mingguan aktivitas Gunung Merapi periode 25 September–1 Oktober 2026. Meski hujan mulai turun di kawasan puncak, laporan menyebut belum ada laporan lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Kondisi hujan ini menjadi perhatian karena Merapi masih berada pada Level III atau Siaga, sementara aktivitas guguran dan awan panas masih berlangsung. Laporan BPPTKG menunjukkan dalam sepekan terjadi 5 kali awan panas guguran (APG), 17 kali gempa guguran, 554 kali gempa hybrid/fase banyak, dan 492 kali gempa guguran.

Dari sisi visual, Merapi pada periode tersebut dominan terlihat cerah. Asap kawah berwarna putih dengan ketebalan tipis hingga tebal teramati bertekanan lemah dengan ketinggian sekitar 25–100 meter di atas puncak.

BACA JUGA : Merapi Kembali Luncurkan 3 Awan Panas Guguran, Jarak Luncur Capai 2 Kilometer

BACA JUGA : Awan Panas Guguran Merapi Kembali Meluncur 2 Kilometer ke Arah Kali Boyong

Sebanyak 10 guguran lava juga teramati meluncur ke arah Kali Boyong, Krasak dan Putih dengan jarak maksimum sekitar 2.500 meter. Sementara volume kubah lava tercatat sekitar 4.182.700 meter kubik untuk Kubah Barat Daya dan 2.369.600 meter kubik untuk Kubah Tengah.

Petugas pemantauan Merapi sebelumnya juga mencatat aktivitas awan panas pada 30 September. Tiga APG terjadi dalam rentang sekitar sepuluh menit dan meluncur ke arah barat daya atau hulu Kali Sat/Putih dengan jarak maksimum sekitar 2 kilometer.

“Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi,” demikian rekomendasi yang tercantum dalam laporan pemantauan BPPTKG.

Hujan di kawasan puncak menjadi penting untuk diperhatikan bukan semata karena curah hujannya, tetapi karena air hujan dapat membawa material vulkanik yang berada di lereng dan alur sungai. Karena itu, perubahan cuaca di kawasan atas Merapi perlu terus dipantau, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar sungai yang berhulu di Merapi.

BACA JUGA : Kubah Lava Merapi Bertambah 10.300 Meter Kubik, Suplai Magma Masih Berlangsung

BACA JUGA : Risiko Merapi dan Megathrust Tinggi, Anggaran Bencana DIY Rp18,3 Miliar Dipertanyakan

Di sisi lain, pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS selama periode laporan tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Artinya, berdasarkan parameter deformasi yang dipantau, belum terlihat perubahan berarti pada tubuh gunung selama periode tersebut.

Laporan juga mencatat bahwa kondisi kegempaan mengalami sedikit peningkatan. Dalam sepekan terpantau 5 kali awan panas guguran, 17 kali gempa guguran, 554 kali gempa hybrid/fase banyak dan 492 kali gempa guguran.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: