Dimulai Dengan Empat Negara, Sekarang 24 Negara, Pesta Boneka Menjadi Ruang Kolaborasi Seniman Dunia
Dua dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah kelompok seni untuk terus bertahan, apalagi ketika yang dibangun bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan. Dari sebuah gagasan kecil yang bermula dengan empat seniman dari empat negara, Pesta Bo--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Dua dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah kelompok seni untuk terus bertahan, apalagi ketika yang dibangun bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan. Dari sebuah gagasan kecil yang bermula dengan empat seniman dari empat negara, Pesta Boneka yang digagas Papermoon Puppet Theatre asal Yogyakarta kini memasuki edisi ke-10 dengan jangkauan internasional yang semakin luas.
Pesta Boneka edisi ke-10 tahun 2026 mengusung tema Holding Hands. Gelaran ini mempertemukan 33 grup dengan total 193 seniman dari 24 negara. Di tengah era digital yang serba cepat dan reaktif, Pesta Boneka justru menawarkan sesuatu yang semakin terasa penting, yakni perjumpaan fisik, kolaborasi, dan ruang untuk saling mengenal secara langsung.
Co-Founder sekaligus Co-Artistic Director Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani atau Ria Papermoon, mengatakan perjalanan Pesta Boneka tidak pernah dirancang sejak awal untuk menjadi festival boneka internasional besar di kawasan Asia Pasifik.
“Jadi Pesta Boneka memasuki edisi ke-10. Mulainya tahun 2008, jadi sudah 18 tahun berjalan. Kalau dulunya dimulai dari hanya empat orang dari empat negara,” ujar Ria kepada media di Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).
BACA JUGA : Ketika Boneka Menjadi Jembatan Komunikasi, Papermoon Mengajak Penonton Berbicara Lewat Gestur
BACA JUGA : Papermoon Puppet Theatre Buka Jalan Generasi Baru, Anak-anak Diajak Kenal Teater Boneka
Menurutnya, Pesta Boneka berawal ketika Papermoon memutuskan membuat sebuah kegiatan internasional kecil. Saat itu, empat seniman dari empat negara menjalani residensi di Papermoon. Dari pertemuan sederhana tersebut, muncul gagasan untuk membuat festival.
Tidak ada target besar yang dipasang. Tidak ada pula skema untuk menjadikan Pesta Boneka sebagai festival boneka paling besar atau paling terkenal di Asia.
“Jadi kita tidak menciptakannya sebagai festival internasional besar di awal. Kita tidak menyesuaikan sejak awal bahwa ini akan jadi festival boneka internasional terbesar di Asia Pasifik. Tidak ada skema itu,” katanya.
Namun, perjalanan yang berlangsung secara organik justru membawa Pesta Boneka menjadi salah satu ruang perjumpaan penting bagi seniman boneka dari berbagai belahan dunia.
BACA JUGA : Boneka dari Jogja Bikin Penonton Jerman Berdiri 10 Menit, Papermoon Puppet Theatre Tuai Standing Ovation
BACA JUGA : WJNC Yogyakarta Dievaluasi, Wali Kota Hasto: Penonton Harus Bisa Memahami Makna Pertunjukan
Ria menuturkan, seorang seniman yang telah mengikuti Pesta Boneka sejak 2014 bahkan masih mengingat ketika festival tersebut pertama kali dimulai hanya dengan empat negara. Kini, 18 tahun kemudian, jumlah negara yang terlibat telah berkembang menjadi 24 negara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

