Wamenkes Soroti Kekurangan Tenaga Gizi untuk Dukung Program Stunting
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus memberikan keterangan kepada awak media saat kunjungan kerja di BB Labkesmas Yogyakarta, Bantul--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
BANTUL, diswayjogja.id - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa luasnya wilayah Indonesia, khususnya di kawasan timur seperti Papua, menuntut negara hadir lebih kuat dalam mengawal program-program strategis, termasuk peningkatan gizi dan pencegahan stunting.
Hal tersebut disampaikan Benjamin saat kunjungan kerja di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta, Kabupaten Bantul, ketika menanggapi tantangan jarak dan akses layanan kesehatan di wilayah timur Indonesia.
"Dari Sorong terbang ke Jayapura saja masih memakan waktu sekitar dua jam. Itu seperti dari Jogja terbang hampir sampai Singapura," katanya, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, perbandingan tersebut menunjukkan betapa luasnya bentang geografis Indonesia yang harus dilayani oleh sistem kesehatan nasional.
Karena itu, negara tidak boleh abai terhadap kebutuhan masyarakat di daerah terpencil dan perbatasan.
"Justru itu. Negara ingin menolong rakyatnya," ucapnya.
BACA JUGA : Urai Antrean IGD dan Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan, RSUD Brebes Resmikan Ruang Intermediet
BACA JUGA : Tanpa Tambang dan Industri Besar, Sleman Bertaruh pada Kesehatan dan Ekonomi Rakyat
Ia mengaitkan upaya pemerataan layanan kesehatan dengan program Presiden dalam mengatasi gizi buruk dan stunting.
Ia menyebut, kebijakan pemberian makanan bergizi telah dirancang menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari ibu hamil hingga pelajar tingkat menengah.
"Presiden punya program untuk mengatasi gizi buruk dan stunting. Maka negara membuat kebijakan mulai dari ibu hamil, balita, SD, SMP, hingga SMA diberi makanan bergizi," tuturnya.
Ia menjelaskan, tujuan utama dari kebijakan tersebut adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus membangun generasi yang lebih sehat dan produktif di masa depan.
Namun, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada distribusi makanan semata.
Ia menekankan pentingnya sistem pengawalan yang ketat agar makanan bergizi yang disalurkan tetap memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: