“Ya, saya jalan dengan mereka juga lama, jadi tahu betul apa yang baik dan jelek,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya memilah pesan.
“Nanti mungkin kita simpan, jangan dihabiskan tadi. Mungkin kita simpan berikutnya,” jelasnya.
Ia menyoroti perlunya memilih momen dan konteks yang tepat dalam menyampaikan kritik atau komentar.
BACA JUGA : UGM Bentuk 7 Tim Khusus Tangani Bencana di Sumatra, Fokus Data hingga Pemulihan
BACA JUGA : Kenduri dan Doa di UGM, Emak-emak Desak Bencana Sumatera Jadi Nasional dan MBG Diprioritaskan
Lebih jauh, ia mencoba merumuskan garis pembatas antara humor, kritik, dan penghinaan.
“Menurut saya, ini menjadi garis pembatas yang menarik untuk membedakan antara mana penghinaan dan mana kritik. Untuk membedakan jelas menurut saya sulit. Jadi kalau mau dipaksa dibedakan dengan berbagai alasan, seperti tadi itu kan, sulit untuk membedakan pengguna,” imbuhnya.
Acara yang menampilkan pembahasan santai mengenai hal ini berlangsung hangat, dengan interaksi penuh canda namun tetap menyentuh aspek penting mengenai etika komunikasi.
Pandangannya memberi perspektif bagi publik tentang bagaimana menghadapi kritik, menjaga profesionalisme, dan tetap bisa bersikap santai dalam berinteraksi.