KWT Bantul Harap Dilibatkan dalam Pasokan Program Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi paket makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan untuk siswa sekolah sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi anak.--Foto: Disway Jogja
BACA JUGA : Ratusan Mahasiswa Demo di DPRD DIY, Tuding MBG Jadi Proyek dan Minta Reformasi Kepolisian
BACA JUGA : Bolen dan Roti Jamuran, Puluhan Wali Murid Keluhkan Menu MBG Ramadan SPPG Gandasuli Brebes
Dalam kondisi tersebut, menu makanan untuk siswa umumnya disajikan dalam bentuk paket makanan kering yang praktis.
Namun hingga saat ini, ia menyayangkan produk olahan dari KWT Bantul belum dilirik oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengelola distribusi makanan dalam program MBG.
“Padahal saat Ramadan biasanya menu dialihkan ke bentuk paket makanan kering untuk siswa. Produk-produk kami sebenarnya sangat memungkinkan untuk mendukung kebutuhan itu,” jelasnya.
Menurutnya, kualitas produk yang dihasilkan kelompok wanita tani sebenarnya telah terbukti mampu bersaing di pasar modern.
Sejumlah produk olahan dari anggota KWT bahkan telah berhasil menembus jaringan ritel nasional maupun supermarket lokal.
Keberhasilan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa standar kualitas produk pangan yang dihasilkan oleh petani perempuan di Bantul sudah memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.
BACA JUGA : MBG Selama Ramadan Berpotensi Tumpang Tindih, Akademisi Usulkan Realokasi Anggaran
BACA JUGA : UGM Sarankan Gunakan Istilah Pangan Olahan, Bukan UPF Dalam Kebijakan MBG
Meski demikian, ia menduga ada sejumlah faktor yang membuat kelompok tani lokal belum masuk dalam rantai pasok program MBG.
Salah satunya adalah pertimbangan stabilitas pasokan dan efisiensi harga yang sering kali membuat penyedia dapur umum lebih memilih pemasok skala besar.
Pemasok besar dinilai mampu menyediakan bahan pangan dalam jumlah besar dengan harga yang lebih kompetitif sehingga lebih mudah memenuhi kebutuhan program dalam skala luas.
Meski begitu, ia berharap pemerintah dapat membuka ruang kemitraan bagi kelompok tani lokal agar manfaat ekonomi dari program MBG tidak hanya dirasakan oleh distributor besar, tetapi juga oleh petani di tingkat desa.
Menurutnya, keterlibatan kelompok wanita tani dalam penyediaan bahan baku program MBG akan menjadi langkah strategis untuk memberdayakan potensi pertanian daerah sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: