Debit Sungai Fluktuatif, BPBD Yogyakarta Perkuat Sistem Peringatan Dini
Talud Sungai Buntung di Bangunrejo, Kricak, Tegalrejo, Kota Yogyakarta ambrol akibat penumpukan sampah dan bangunan yang berdiri di atas sempadan sungai, pada Senin (19/1/2026).--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan yang meningkat berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di wilayah Kota Yogyakarta. Menyikapi kondisi tersebut,
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, genangan air, angin kencang, hingga longsor di sejumlah titik rawan.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi sungai di wilayah Kota Yogyakarta. Pemantauan dilakukan secara real-time melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) BPBD dengan memanfaatkan alat telemetri.
“Debit dan ketinggian air di Sungai Gajah Wong, Sungai Code, Sungai Winongo, serta wilayah hulu di Ngentak, Sleman, kami pantau secara terus-menerus. Sejauh ini belum terpantau kenaikan debit air yang signifikan maupun kondisi luar biasa yang berpotensi memicu banjir,” ujar Darmanto dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
BACA JUGA : Hujan Lebat Picu Pohon Tumbang di Purbayan, Teras Rumah Rusak dan Kerugian Capai Rp15 Juta
BACA JUGA : Pohon Beringin Berusia 500 Tahun Tumbang di Kompleks Masjid Gedhe Mataram Kotagede
Meski demikian, Darmanto menegaskan bahwa hujan masih sering turun dengan intensitas yang tidak menentu, mulai dari sedang hingga lebat. Kondisi tersebut menyebabkan debit air sungai bersifat fluktuatif dan berpotensi berubah cepat seiring cuaca ekstrem yang masih berlangsung.
BPBD Kota Yogyakarta juga terus mencermati informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan pantauan BMKG, pembentukan awan hujan di wilayah Yogyakarta masih cukup tinggi dan berpotensi memicu hujan lebat disertai kilat, angin kencang, serta peningkatan aliran air di sungai-sungai kecil.
“Beberapa risiko yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain banjir genangan lokal akibat drainase yang tidak mampu menampung air hujan dalam waktu singkat, luapan sungai bagi warga yang tinggal di bantaran sungai, serta bahaya angin kencang dan petir yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun kerusakan atap rumah,” jelasnya.
Selain itu, BPBD juga mengingatkan potensi longsor talud di kawasan permukiman bantaran sungai, terutama jika hujan dengan intensitas tinggi terjadi secara berulang dalam waktu berdekatan.
BACA JUGA : Sampah Jadi Pemicu Talud Ambrol di Sungai Buntung, Pemkot Soroti Bangunan di Atas Sempadan
BACA JUGA : Talud Sungai Buntung Ambrol, Wali Kota Hasto Pastikan Perbaikan Dianggarkan Tahun Ini
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kota Yogyakarta telah mengoperasikan sistem pemantauan sungai selama 24 jam melalui alat telemetri sebagai sistem deteksi dini. Koordinasi intensif dengan BMKG dan instansi terkait juga terus dilakukan untuk memperoleh pembaruan peringatan dini cuaca.
Sistem Early Warning System (EWS) disiagakan dan akan berbunyi saat kondisi sungai mencapai ambang risiko banjir. Darmanto menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: