BPBD Sleman Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Jelang Lebaran 2026

BPBD Sleman Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Jelang Lebaran 2026

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Raden Haris Martapa menyampaikan potensi cuaca ekstrem menjelang Lebaran 2026 saat jumpa pers di Dinas Pertanian Sleman, Selasa (3/3/2026).--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id - Pemerintah Kabupaten Sleman mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang dan selama Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Raden Haris Martapa, mengatakan potensi bencana hidrometeorologi masih perlu diwaspadai meskipun kondisi iklim di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta diprediksi berada pada fase netral.

Hal tersebut disampaikannya dalam jumpa pers terkait kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem menjelang dan selama Lebaran di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, Selasa (3/3/2026).

“Walaupun indeks iklim global seperti ENSO dan IOD berada pada kondisi netral, curah hujan di wilayah DIY masih cukup signifikan hingga Maret dan April 2026. Karena itu masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana,” katanya.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dinamika atmosfer saat ini menunjukkan indeks IOD berada pada angka +0,4 atau netral cenderung positif, sementara indeks ENSO berada di angka -0,27 yang juga menunjukkan kondisi netral.

BMKG memprediksi kondisi tersebut akan bertahan hingga pertengahan tahun 2026. 

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem Jogja, BPBD Perpanjang Status Siaga hingga Maret 2026

BACA JUGA : 59 Titik Longsor Terjadi di DIY, BPBD Siagakan 36 Personel TRC dan 125 Brimob

Pola angin baratan yang masih dominan pada Februari diperkirakan mulai berubah pada April, sebelum angin timuran menjadi dominan pada Mei 2026.

Dari sisi curah hujan, wilayah DIY masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi pada Maret 2026, yakni berkisar antara 151 hingga 400 milimeter per bulan. 

Sementara pada April, curah hujan diprediksi mulai menurun menjadi 101 hingga 300 milimeter per bulan.

“Secara umum puncak musim hujan sudah terjadi pada Januari hingga Februari. Namun sisa musim hujan masih berlangsung hingga April, sehingga potensi hujan lebat yang disertai angin kencang, petir, banjir, maupun tanah longsor tetap perlu diantisipasi,” ucapnya. 

Ia menjelaskan, awal musim kemarau di wilayah DIY diprediksi mulai terjadi pada dasarian ketiga April hingga dasarian pertama Mei 2026. 

Kondisi tersebut menandai peralihan musim dari penghujan menuju kemarau.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: