"Satu untuk Kanjeng Allah, dua untuk Kanjeng Nabi. Pertama Kanjeng Nabi Muhammad, sama Allah SWT, supaya selamat dunia akhirat,” tambahnya.
Kalimatnya mengalir pelan, seolah merangkum pandangan hidup yang menyatu dengan tradisi.
BACA JUGA : Sleman Magnet Wisatawan Nataru 2025-2026, 437 Ribu Pengunjung
BACA JUGA : Kadin–Disperindag Sleman Dorong Investasi Berbasis Lokal, Sleman Utara Jadi Kawasan Ekonomi Baru
Di balik kain, benang, dan pola lipatan, ada pesan moral yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Baginya, simbol-simbol itu bukan sekadar ornamen.
Ia berdiri sebagai pengingat akan kesederhanaan, keteguhan, dan keyakinan.
“Satu bagian, ini nomor 1,” lanjutnya sambil menunjuk bagian paling penting pada struktur blangkon, titik yang ia anggap sebagai pusat makna.
Di tengah laju produksi modern, blangkon buatan tangan seperti miliknya mungkin tak lagi banyak ditemui. Namun di ruang kecil itu, tradisi masih bernapas.
BACA JUGA : Sleman Rayakan Tahun Baru dengan Doa Khusus untuk Warga Sumatera
BACA JUGA : Pemkab Sleman Permudah Bayar PBB, Hapus Denda Setengah Tahun
Setiap karya yang selesai bukan hanya menjadi produk budaya, melainkan juga jejak spiritualitas yang dipelihara dalam diam.
Selama masih ada tangan yang setia mengerjakan lipatan dengan penuh kesabaran, magnet tradisi itu tidak akan hilang. Ia akan tetap hidup, di antara benang, kain, dan makna yang tak pernah benar-benar pergi.