YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Dua tokoh lintas bangsa dan lintas generasi bertemu dalam sebuah dialog penuh makna di SM Tower Malioboro.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, berbincang akrab dengan seorang antropolog asal Jepang yang telah lebih dari setengah abad meneliti Islam Indonesia, Prof. Mitsuo Nakamura.
Kedatangan Nakamura kali ini bukan kunjungan biasa. Ia datang ke Indonesia untuk memperkenalkan buku terbarunya, Mengamati Islam di Indonesia 1971–2023.
Buku ini menjadi penanda penting dari kiprah panjang Nakamura dalam memahami denyut Islam Indonesia, khususnya Muhammadiyah—gerakan Islam modernis yang telah ia pelajari sejak awal 1970-an.
BACA JUGA : Reshuffle Kabinet, Haedar Nashir: Jabatan Bukan Kebanggaan, Belajarlah Empati dan Peduli Rakyat
BACA JUGA : Haedar Nashir Serukan Massa Tahan Diri dan Hentikan Kekerasan yang Memecah Belah Bangsa
Pertemuan mereka bukan sekadar momen nostalgia. Di ruang itu, terjalin dialog yang merefleksikan perjalanan Muhammadiyah, antara pemimpin masa kini dan peneliti yang telah menyaksikan organisasi ini dari dekat, sejak masa lampau.
Antropolog yang Belajar Islam dari Warga Muhammadiyah
Nakamura sendiri memulai kisahnya dengan rendah hati. Ia mengaku awalnya tidak berniat meneliti Islam.
“Saya masuk ke Kotagede hanya untuk penelitian sejarah sosial,” tuturnya melalui keterangan resmi PP Muhammadiyah, Selasa (23/9/2025).
Namun realitas di lapangan membawanya pada pengalaman hidup bersama warga Muhammadiyah, yang secara perlahan membentuk pandangan dan pemahamannya tentang Islam.
BACA JUGA : Muhammadiyah Ingatkan Bahaya Penyalahgunaan Kekuasaan di Usia 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia
BACA JUGA : Aksi Demonstrasi Pati, Muhammadiyah: Jangan Buat Kebijakan yang Ugal-ugalan
“Orang-orang Kotagede itulah yang membawa saya kepada Islam. Sebelum itu, pengetahuan saya sangat terbatas,” kenangnya.
Penelitiannya yang berbasis pendekatan emik, melihat dari sudut pandang pelaku sosial, membuat Nakamura mampu memahami Muhammadiyah bukan dari luar, tetapi dari dalam. Tanpa penghakiman, tanpa prasangka.
“Saya ingin tahu bagaimana Islam dihidupkan oleh umatnya. Muhammadiyah memberi saya jawaban itu,” ujarnya.