Kisah Antropolog Jepang Mitsuo Nakamura, Belajar Islam dari Warga Muhammadiyah

Selasa 23-09-2025,16:46 WIB
Reporter : Anam AK
Editor : Syamsul Falaq

Karya tersebut berjudul The Crescent Arises Over the Banyan Tree, yang kemudian diterjemahkan menjadi Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. 

Penelitian mendalam yang dilakukan di Kotagede, Yogyakarta, menjadikan Nakamura bukan hanya Indonesianis, tetapi seorang “Muhammadiyah-watcher” yang sangat akrab dengan denyut nadi organisasi.

Menurut Haedar, penelitian Nakamura mengingatkan bahwa kekuatan awal Muhammadiyah bersumber dari para saudagar yang dermawan. 

Kini, kekuatan itu berkembang menjadi amal usaha berskala nasional: sekolah, rumah sakit, hingga universitas. Namun akar itu tak boleh dilupakan.

“Sinergi antara kekuatan personal dan kekuatan institusional adalah modal sosial keagamaan Muhammadiyah yang harus terus dijaga,” tegas Haedar.

BACA JUGA : Integrasi Digitalisasi Umat SATUMU, Muhammadiyah Gandeng Perbankan Syariah

BACA JUGA : Wujudkan Persatuan Dunia Islam, Muhammadiyah Resmi Luncurkan Kalender Hijriah Global Tunggal

Lebih dari itu, Nakamura juga menjadi teladan dalam hal semangat riset. Usianya yang telah mencapai 92 tahun tak meredam rasa ingin tahunya.

“Intelektualisme yang berbasis riset itu harus terus disuburkan. Kita tidak boleh berhenti pada retorika,” ujar Haedar.

Dari Kenangan ke Harapan

Haedar dan Nakamura pernah bertemu di tahun 1984, ketika Haedar masih menjadi wartawan muda. Empat puluh tahun kemudian, mereka kembali bertemu—masing-masing tetap setia pada jalan keilmuan dan perjuangan yang mereka yakini.

Semangat riset, ketekunan ilmiah, dan pengabdian terhadap nilai Islam yang inklusif terus mengalir dari perjumpaan mereka.

BACA JUGA : Perkuat Sistem Keanggotaan Digital dan Perlindungan Data, Muhammadiyah Kolaborasi dengan VIDA

BACA JUGA : Dukung Gerakan Ramah Lingkungan, Muhammadiyah Luncurkan Becak Listrik di Yogyakarta

Dalam sosok Prof. Mitsuo Nakamura, Muhammadiyah melihat cermin luar negeri yang mencintai dari dalam. Seorang ilmuwan Jepang yang tak hanya meneliti, tetapi juga ikut merasakan denyut kehidupan Islam Indonesia.

Dan dalam sosok Haedar Nashir, Muhammadiyah menemukan kontinuitas perjuangan—dari generasi pendiri hingga ke masa depan.

Kategori :