SLEMAN, diswayjogja.id - Suara gamelan berpadu dengan derap kaki penari jathilan, menciptakan suasana magis yang memikat penonton.
Meski hanya tampil singkat, kelompok Jathilan Kudho Tamtomo binaan Polda DIY tetap mampu menghadirkan pertunjukan penuh energi.
Pelatih kuda lumping sekaligus anggota Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda DIY, Aipda Nurdianto, mengatakan bahwa durasi pentas kali ini lebih singkat dari biasanya.
“Tapi kemarin cuma satu babak, sesuai permintaan manajemen. Harusnya dua jam, tapi waktunya cuma 1,5 jam. Jadi tidak maksimal,” ujarnya, Minggu (24/8/2025).
Menurut dia, satu babak jathilan biasanya berdurasi panjang.
BACA JUGA : Polda DIY Kantongi Beberapa Nama Calon Tersangka Kasus Mafia Tanah Mbah Tupon
BACA JUGA : Kasus Mafia Tanah Mbah Tupon, Kapolda DIY: Hari Ini Tiga Tersangka Ditahan
“Satu babak itu durasinya 1,5 jam. Kalau pentas penuh biasanya mulai jam 12 siang sampai jam 5 sore,” katanya.
Meski terbatas, seluruh anggota komunitas tetap berperan aktif dalam pementasan.
“Pemainnya tetap, hanya ganti peran sesuai kebutuhan cerita,” tuturnya.
Ia menegaskan, keistimewaan Kudho Tamtomo terletak pada kekompakan anggotanya yang selalu ikut terlibat, baik di atas panggung maupun di balik layar.
“Semua anggota komunitas ikut terlibat,” ucapnya.
Makan Mawar Wujud Variasi, Bukan Kewajiban
Dalam setiap pentas jathilan, selalu ada momen yang membuat penonton tertegun.
Salah satunya ketika seorang pemain tiba-tiba menyantap bunga mawar di tengah atraksi.
BACA JUGA : Gedung Mapolda DIY Bakal Dibangun di Godean, Sri Sultan Ingatkan Sumbu Filosofi