BACA JUGA : Polda DIY Resmi Tahan Enam Tersangka Mafia Tanah di Bantul
Adegan itu kerap memunculkan beragam tafsir, mulai dari simbol mistis hingga ritual khusus.
Namun, bagi kelompok Jathilan Kudho Tamtomo binaan Polda DIY, makan bunga hanyalah bagian dari hiburan. Hal tersebut tidak selalu ada dalam setiap pementasan.
“Ah, itu hiburan saja (makan mawar),” sebutnya.
Ia menambahkan, tidak ada keharusan bagi pemain untuk melakukannya.
“Tidak semua harus makan mawar,” imbuhnya.
Menurutnya, makan bunga biasanya muncul spontan ketika seorang penari berada dalam kondisi trance.
“Kadang ada pemain yang kerasukan, lalu minta sesuatu, termasuk bunga,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa kejadian itu hanyalah variasi pertunjukan, bukan bagian dari pakem utama jathilan.
“Itu bagian dari variasi pertunjukan,” tegasnya.
Dengan demikian, jathilan tetap berdiri sebagai seni pertunjukan rakyat yang lebih mengedepankan ekspresi budaya ketimbang mistifikasi.
Lewat gerakan, musik, dan simbol, kelompok Kudho Tamtomo berupaya menghadirkan hiburan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi Jawa.