Biopori Jumbo Jogja Hasilkan Ratusan Kilogram Kompos dari Sampah Organik
Warga RW 05 Kampung Mangkuyudan melaksanakan Panen ke-3 Biopori Jumbo (BIMBO), Jumat (23/1/2026), di mana mereka berhasil menghasilkan ratusan kilogram kompos yang dimanfaatkan kembali untuk pertanian dan kebutuhan warga.--dok. Pemkot Jogja
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Dari sampah organik rumah tangga, warga Kampung Mangkuyudan, Kota Yogyakarta, berhasil menghasilkan ratusan kilogram kompos yang dimanfaatkan kembali untuk pertanian dan kebutuhan warga.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari RW 05 Kampung Mangkuyudan, Sumarsini, mengatakan pengelolaan sampah melalui Biopori Jumbo di wilayahnya telah berjalan sejak 2021 dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan warga.
“Awalnya kami hanya punya dua bangunan biopori jumbo. Setelah disosialisasikan ke warga, masyarakat mulai memilah sampah dari rumah. Sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang dibuka sebulan sekali, setiap Minggu terakhir. Sedangkan sampah organik setiap hari bisa langsung dibuang ke dua bangunan biopori itu,” ujarnya saat panen ketiga Biopori Jumbo, Jumat (23/1/2026).
Untuk mempercepat proses pembusukan, sampah organik yang masuk ke biopori secara rutin diberi tetes tebu dan EM4. Setelah melalui proses pengomposan sekitar enam bulan, sampah dapat dipanen menjadi kompos.
BACA JUGA : PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien Terapkan Biopori untuk Kelola Sampah Organik Pesantren
BACA JUGA : Sampah Jadi Pemicu Talud Ambrol di Sungai Buntung, Pemkot Soroti Bangunan di Atas Sempadan
“Kompos yang dihasilkan kami gunakan sebagai media tanam. Jadi sampah tidak berhenti diolah, tapi dimanfaatkan kembali untuk budidaya tanaman,” katanya.
Saat ini, lebih dari 100 kepala keluarga di RW 05 aktif membuang sampah organik ke biopori. Pada masa uji coba awal, satu unit biopori digunakan oleh delapan rumah tangga dan mampu menampung sekitar 1 ton 125 kilogram sampah basah selama kurang lebih 10 bulan, yang menghasilkan sekitar 350 kilogram kompos siap pakai.
“Kompos ini akan kami manfaatkan lagi sebagai media tanam. Jadi sistemnya berputar terus. Sekarang yang menjadi PR tinggal sampah plastik, karena memang tidak bisa kita olah. Tapi untuk sampah organik, masyarakat sudah paham dan rutin memasukkannya ke biopori,” jelas Sumarsini.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi penerapan Biopori Jumbo yang tidak hanya berfungsi sebagai teknologi lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
BACA JUGA : Larangan Sampah Organik ke Depo Berlaku 1 Januari 2026, Pemkot Yogyakarta Siapkan Sistem Baru
BACA JUGA : Kelola Sampah Organik dengan Maggot, Warga Cokrodiningratan Raup Tabungan
Menurutnya, warga kini mulai terbiasa memilah sampah dari rumah, mengelola sampah organik secara mandiri, serta memanfaatkannya kembali untuk kepentingan bersama.
“Tahun kemarin pas awal-awal saya menjabat, saya ke sini dan kita cek biopori. Waktu itu bioporinya masih dua, tapi pengelolaannya sudah bagus. Sekarang karena kita tidak punya ruang yang cukup, maka kita perbanyak biopori. Di sini sudah ada lima sampai enam biopori, dan itu ternyata cukup untuk satu RW. Masyarakat sudah otomatis tahu diri, sisa-sisa organiknya dimasukkan ke situ,” tutur Hasto.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: