DISWAYJOGJA – Jemparingan bukan hanya sekadar sarana olah raga ketangkasan, melainkan pula sarana untuk mengolah rasa dan karsa. Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Hadeging Kadipaten Pakualaman Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro saat ditemui dalam gelaran lomba Jemparingan Mataraman, di Lapangan Kenari, Yogyakarta, Minggu, 2 Juni 2024.
BPH Kusumo Bimantoro menjelaskan, jemparingan merupakan olahraga panahan tradisional asal Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Olahraga dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional ini pada awalnya hanya dilakukan di kalangan keluarga Kerajaan Mataram hingga dijadikan perlombaan di kalangan prajurit kerajaan. BACA JUGA:Rekomendasi 10 Olahraga Outdoor Seru untuk Pemula Dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212, lomba Jemparingan Yogyakarta turut digelar sebagai wujud pelestarian olahraga WBTb ini. ”Makna khususnya jemparingan yakni sebagai olah raga, olah rasa, dan olah karsa. Kita berlatih untuk mengatur diri sendiri, mengenai bagaimana cara kita untuk mengalahkan diri kita sendiri karena sering distraksi itu datang dari diri kita sendiri,” ucap BPH Kusumo Bimantoro. Berbeda dengan memanah pada umumnya, jamparin ini dilakukan dengan duduk bersila. Jemparingan berasal dari kata jemparing berarti anak panah dengan duduk bersila. Pemanah jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam kondisi bersila, tapi juga tidak membidik dengan mata. Busur dalam jemparingan diposisikan mendatar di hadapan perut, sehingga bidikan panah didasarkan pada perasaan pemanah. Dia menjelaskan, gaya memanah tersebut sejalan dengan filosofi jemparingan gaya Mataram, yaitu pamenthanging gandewa pamanthenging cipta, Maknanya membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik. BACA JUGA:Jaga Eksistensi Kendaraan Tradisional, Pemda DIY Serahkan 50 Becak Kayuh Bertenaga Alternatif Listrik Filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pesan agar manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada tujuan tersebut agar cita-citanya dapat terwujud. Filosofi tersebut mengingatkan bahwa dalam meraih harapan, musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Mengenai seberapa mampu manusia mengarahkan rasa dan karsanya, segenap hati penuh konsentrasi kepada tujuan yang ingin dicapai. ”Memang jemparingan selalu dikenal oleh orang-orang yang sudah berumur. Namun, tahun demi tahun kita berusaha melakukan pengenalan, kita melakukan sosialisasi melalui acara-acara seperti ini, melalui acara-acara, lomba-lomba, dan sayembara-sayembara jemparingan untuk mengenalkan jemparingan kepada generasi-generasi muda, supaya regenerasi. Regenerasi pengembangan dan pelestarian budaya jemparingan,” jelas BPH Kusumo Bimantoro. Pada kesempatan itu, Abdi Dalem Pura Pakualaman Urusan Kapanitran KMT Sestrodiprojo menyampaikan, jemparingan juga khas dengan busana yang harus dikenakan. Dimana pemanah jemparingan diwajibkan untuk memanah dengan mengenakan pakaian daerah masing-masing. Misalnya busana pranakan atau surjan, apabila berasal dari Jawa. Busur yang digunakan dalam jemparingan sendiri disebut dengan gandewa. Sementara sasarannya bukanlah lingkaran, melainkan berupa silinder kecil yang disebut wong-wongan atau bandul yang mencitrakan orang yang sedang berdiri. Bentuknya silinder tegak sepanjang 30 cm dengan diameter sekitar 3 cm. Sekitar 5 cm di bagian atas diberi warna merah yang dinamakan molo atau sirah (kepala). Kemudian bagian bawah diberi warna putih dan dinamakan awak (badan). ”Jadi sasaran jemparingan itu berupa bandul. Kalau merah itu nilainya 3, itu dianggap kepala. Yang badan itu yang putih, itu nilainya satu. Setiap rambahan atau ronde istilahnya, itu anak panahnya cuma 4. Dikalikan 20 rambahan atau 20 ronde, jadi orang itu memanah 80 kali,” urai KMT Sestrodiprojo. (*)Olahraga Tradisional Asal Yogyakarta, Jemparingan Ajarkan Olah Rasa dan Karsa
Rabu 05-06-2024,07:47 WIB
Reporter : M. Fatkhurohman
Editor : M. Fatkhurohman
Kategori :
Terkait
Jumat 30-01-2026,14:53 WIB
Sorong Gandeng Yogyakarta, Uji Sampah Plastik Tak Lagi ke Luar Daerah
Kamis 22-01-2026,19:16 WIB
Pria Muda Ditemukan Tewas Gantung Diri di Pohon Dekat Sekolah Yogyakarta
Kamis 22-01-2026,17:30 WIB
Tren Nikah Gratis di KUA Meningkat di Jogja, Kemenag DIY Ungkap Penyebabnya
Selasa 20-01-2026,19:35 WIB
Menteri Hukum Pastikan Pos Bantuan Hukum Layani Sengketa Warga Kurang Mampu
Jumat 09-01-2026,18:04 WIB
Banyak Anak Alami Flu Berkepanjangan, Dinkes Jogja Temukan Kluster di Sekolah
Terpopuler
Kamis 05-02-2026,18:28 WIB
Dokumen Kependudukan Jadi Kunci Akses Hak Kelompok Marginal di Sleman
Kamis 05-02-2026,16:56 WIB
BPJS Mati Mendadak, Kantor Dinsos Sleman Diserbu Warga
Kamis 05-02-2026,16:57 WIB
Ribuan Penerima Bansos Sleman Diverifikasi Terkait Dugaan Judi Online
Jumat 06-02-2026,09:37 WIB
Surga Pasar Gede Solo Mulai Dari Kudapan Tradisional hingga Sentuhan Modern, Berikut Informasi Lengkapnya
Kamis 05-02-2026,17:29 WIB
Derby Mataram PSIM Jogja vs Persis Solo, Laskar Mataram Bidik Kemenangan Usai Dua Kekalahan
Terkini
Jumat 06-02-2026,13:37 WIB
35 TPS 3R Hingga Pengelolaan TPA Kaliwlingi dan Kalijurang Jadi Komitmen Pemkab Brebes Beresi Sampah
Jumat 06-02-2026,13:35 WIB
Data Peserta Magang Sleman Masih di Kemenaker
Jumat 06-02-2026,13:34 WIB
14 Titik Bencana Hidrometeorologi di Bantul Jadi Prioritas Pemulihan
Jumat 06-02-2026,12:42 WIB
BEM UGM Surati UNICEF Usai Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT, Singgung Prioritas Anggaran Pemerintah
Jumat 06-02-2026,12:41 WIB