Kisah Solidaritas dan Keberanian di Balik Kepergian John Tobing
Arie Sujito dan Dekan UGM Titik menyampaikan refleksi dan doa dalam penghormatan terakhir untuk John Tobing di Rumah Duka Bethesda, Yogyakarta.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Di ruang hening Rumah Duka Bethesda, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026), suasana tak sepenuhnya larut dalam kesedihan.
Ada pelukan panjang, sapaan lirih, dan tatapan yang saling menguatkan.
Duka atas berpulangnya John Tobing justru menjadi magnet yang menarik kembali simpul-simpul persahabatan lama.
Di antara mereka yang hadir, tampak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito.
Dalam sambutannya, ia tak sekadar menyampaikan belasungkawa.
Ia menghadirkan kembali jejak solidaritas yang tumbuh sejak lama, bahkan melampaui batas kota dan waktu.
BACA JUGA : MBG 2026 Serap 66% Anggaran Pendidikan, Sleman Fokus Perjuangkan Hak Guru Honorer
BACA JUGA : Dampak Kecewa Hasil Konfercab Meluas, Kader PDI Perjuangan Desa Mundu Tanjung Kompak Mundur
“Solidaritasnya sebagai teman sesama pejuang sungguh terasa,” katanya, membuka kenangannya tentang John.
Ia menyebut bagaimana perhatian dan kepedulian terus mengalir, bukan hanya dari satu lingkaran, melainkan dari Bandung hingga Jakarta.
“Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang selalu menyertai, membawa, dan menguatkan solidaritas ini di Bandung dan Jakarta,” ucapnya.
Bagi Arie, John bukan hanya sahabat. Ia adalah sosok yang menghadirkan energi kebersamaan.
Roy dan beberapa sahabat lain, selalu aktif bertanya tentang kondisi John, tentang sakit yang dideritanya, tentang upaya-upaya medis yang ditempuh.
Percakapan-percakapan itu menjadi bukti bahwa kepedulian tak pernah berhenti, bahkan ketika waktu terasa sempit.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: