Kisah Solidaritas dan Keberanian di Balik Kepergian John Tobing

Kisah Solidaritas dan Keberanian di Balik Kepergian John Tobing

Arie Sujito dan Dekan UGM Titik menyampaikan refleksi dan doa dalam penghormatan terakhir untuk John Tobing di Rumah Duka Bethesda, Yogyakarta.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

Ia mengaku masih merinding setiap kali mengingat figur yang akrab disapa Bung John itu.

BACA JUGA : Ustaz Muhammad Jazir ASP Wafat, Muhammadiyah Kehilangan Arsitek Perjuangan Masjid Jogokariyan

BACA JUGA : Jejak Bung Karno di Blitar, Kader PDI Perjuangan Jogja Dalami Nilai Pancasila

Titik membawa ingatan hadirin mundur ke tahun 1990. 

Saat itu, ia baru saja menjadi mahasiswa baru di fakultasnya. 

Atmosfer kampus, katanya, masih kental dengan nuansa militeristik. 

Tradisi ospek dijalankan dengan cara yang bagi generasi hari ini mungkin sulit dibayangkan.

“Tahun 1990, ketika saya pertama kali menjadi mahasiswa di fakultas, di tengah atmosfer kampung yang masih berbau militeristik, para senior mengospek dengan cara yang, bagi generasi hari ini, mungkin tidak pernah terbayangkan,” kenangnya. 

Situasi itu, lanjutnya, membuat nyali siapa pun bisa ciut. Namun di tengah tekanan dan ketegangan itu, hadir sosok yang berbeda.

BACA JUGA : Warkop Perjuangan Catat Lonjakan Pengunjung Saat Buka Dapur Gratis Mahasiswa

BACA JUGA : Warkop Perjuangan Luncurkan Program Shelter dan Perpanjangan Kos untuk Mahasiswa Terdampak Bencana

Seorang senior yang tak hanya tegas, tetapi juga lembut. Sosok itu adalah Bang John.

“Nah, di tengah situasi seperti itu, hadir seorang senior yang sekaligus menjadi abang dan guru bagi saya, dengan kelembutannya,” imbuhnya. 

Ia baru menyadari kemudian bahwa banyak orang mungkin keliru menilai John semata dari keberaniannya. 

“Di balik keberaniannya sebenarnya tersimpan kelembutan yang luar biasa dalam diri Bang Jon,” lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: