Kisah Solidaritas dan Keberanian di Balik Kepergian John Tobing
Arie Sujito dan Dekan UGM Titik menyampaikan refleksi dan doa dalam penghormatan terakhir untuk John Tobing di Rumah Duka Bethesda, Yogyakarta.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
BACA JUGA : Puluhan Simpatisan PDI Perjuangan Wanasari Brebes Kompak Mundur Lantaran Kecewa Hasil Konfercab 2025
BACA JUGA : Jelang Rakernas 2026, PDI Perjuangan Yogyakarta Perkuat Kerja Nyata untuk Rakyat
Arie juga mengenang momen personal yang mengikat batinnya dengan peristiwa kehilangan ini.
Ia teringat saat John meninggal, lalu secara tak terduga bertemu dengan dokter yang pernah merawatnya ketika ia sendiri sakit selama seminggu.
“Saat itu saya sempat bertanya,” tuturnya pelan, seolah mengajak hadirin masuk ke ruang refleksinya.
Pertemuan itu seperti jembatan antara pengalaman sakit, kehilangan, dan pemahaman tentang keterbatasan manusia.
Tak hanya itu, Arie juga berbicara dengan Tania, anak John, untuk memahami lebih jauh perjalanan terakhir sang sahabat.
Dari percakapan itu, ia merasakan keteguhan yang diwariskan John kepada keluarganya.
BACA JUGA : Kader PDI Perjuangan Brebes Mengundurkan Diri, Asrofi : Saya Kecewa Hasil Konfercab dan Pemilihan Ketua DPC
BACA JUGA : Di Detik Akhir, Ustaz Jazir ASP Masih Bicara Amal dan Perjuangan
Dalam suasana yang syahdu, Arie menyampaikan kalimat yang membuat beberapa hadirin menunduk haru.
“Teman-teman, John berhenti bukan untuk meninggalkan kita. Hati John tidak pernah meninggalkan kita,” ujarnya.
Di tengah suasana haru mengenang almarhum John Tobing, suara Titik terdengar bergetar namun tegas.
Dekan di Universitas Gadjah Mada itu tak sekadar berbicara sebagai pejabat kampus, melainkan sebagai sahabat muda yang pernah ditempa dalam kerasnya zaman.
“Bang John, saya kira sosok Bang John, kehadirannya tidak hanya menjadi kebanggaan teman-teman UGM, tetapi sudah menjadi kebanggaan seluruh Indonesia,” jelasnya dalam refleksinya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: