BACA JUGA : Gempa Bantul 5,5 dan 4,4, BPBD Sebut Kerusakan Hanya Ringan
Hal ini menjadi semakin penting setelah Papua mengalami pemekaran wilayah.
"Jadi kita harus ingat bahwa Indonesia sangat luas. Tadinya Papua hanya dua provinsi, sekarang menjadi enam. Ini adalah kemajuan," pungkasnya.
Ia menjelaskan, bertambahnya jumlah provinsi secara otomatis juga meningkatkan kebutuhan akan fasilitas kesehatan, tenaga medis, serta laboratorium yang memenuhi standar.
Jika sebelumnya dua wilayah administratif masih dapat berbagi sumber daya, kini setiap provinsi memerlukan dukungan layanan yang lebih mandiri.
"Dari dua provinsi menjadi enam, otomatis kebutuhannya juga bertambah. Tadinya cukup dua, sekarang harus jadi enam," tandasnya.
Ia menilai, kemajuan bangsa harus diikuti dengan pembangunan infrastruktur kesehatan yang seimbang antara wilayah barat dan timur.
BACA JUGA : Bantul Data Ulang Perizinan Tanah untuk Sesuaikan Pajak
BACA JUGA : Bantul Pastikan Distribusi Seragam Sekolah Sesuai Standar
Tanpa hal tersebut, masyarakat di daerah terpencil berisiko tertinggal dalam hal akses layanan medis yang cepat dan berkualitas.
Dalam konteks Papua Barat Daya, Benjamin menyoroti posisi strategis Kota Sorong sebagai pintu gerbang utama menuju wilayah paling timur Indonesia.
Keberadaan bandara dan akses transportasi laut menjadikan Sorong sebagai simpul penting dalam distribusi layanan kesehatan, termasuk pengiriman sampel laboratorium dan mobilisasi tenaga medis.
"Dengan kemajuan bangsa, Sorong juga memiliki lokasi yang sangat penting dan strategis. Ada bandara," tegasnya.
Ia menambahkan, tanpa akses transportasi yang memadai, waktu tunggu masyarakat untuk mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan dapat menjadi jauh lebih lama.
Kondisi ini berpotensi menghambat penanganan penyakit yang membutuhkan respons cepat.
BACA JUGA : Distribusi MBG Bantul Fokus Jaga Gizi Siswa Saat Puasa