BACA JUGA : Bukan Sekadar Expo, Maguwoharjo 2025 Jadi Laboratorium Ekonomi Baru Warga
Ia menjelaskan, warga di Sorong yang memeriksakan sampel ke laboratorium setempat kerap harus menunggu lebih lama karena fasilitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi syarat uji.
Akibatnya, sampel harus dikirim ke Makassar untuk proses verifikasi sebelum hasilnya dinyatakan sah dan dikembalikan lagi ke Sorong.
"Bayangkan orang di Sorong memeriksakan sampel ke lab SPPG di Sorong, tapi belum memenuhi syarat karena lab-nya belum diuji. Harus dikirim dulu ke Makassar, lalu kembali lagi ke Sorong, baru sah," jelasnya.
Menurutnya, proses ini menjadi lebih rumit jika sampel harus dikirim ke Yogyakarta sebagai salah satu pusat rujukan laboratorium.
Jarak yang jauh dan keterbatasan moda transportasi di beberapa daerah membuat waktu tunggu semakin panjang.
"Apalagi kalau harus dikirim ke Jogja. Bayangkan itu," sebutnya.
BACA JUGA : Siswa di Sleman Diduga Keracunan Makanan, Pemeriksaan Laboratorium Masih Berlangsung
Ia menambahkan, keberadaan bandara di Sorong setidaknya membantu mempercepat proses pengiriman.
Namun, ia menegaskan bahwa solusi jangka panjang tetap harus difokuskan pada penguatan laboratorium di daerah.
"Untung Sorong ada bandara, jadi bisa agak cepat," tambahnya.
Ia menanggapi cerita panjangnya waktu tunggu masyarakat di Papua dalam mengakses layanan pemeriksaan kesehatan dan pengujian laboratorium.
"Bayangkan kalau tidak ada bandara di situ, berapa lama harus menunggu?" lanjutnya.
Menurutnya, kondisi geografis Indonesia yang terbentang luas dari barat hingga timur membuat negara harus memiliki perencanaan yang matang dan target yang jelas dalam pembangunan sektor kesehatan.
BACA JUGA : DPRD Bantul Tegaskan Standar Keamanan MBG Ramadan