Mengenal Tradisi Mendhem Ari-Ari dan Brokohan di Lingkungan Yogyakarta

Minggu 27-10-2024,09:19 WIB
Reporter : Dikana Alfina
Editor : Syamsul Falaq

diswayjogja.com - Di Jawa, khususnya seperti diYogyakarta masih dapat dijumpai berbagai upacara adat yang masih digelar, terutama di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Salah satu tradisimya yaitu  mendhem ari-ari dan brokohan. Tradisi ini dilangsungkan setelah  terjadi kelahiran di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Kedua tradisi ini biasanya dilakukan tepat pada hari kelahiran. Namun, jika kondisi kurang memungkinkan, seperti bayi lahir terlalu malam, maka boleh dilakukan esok hari.

Tradisi yang satu ini juga masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Tapi, tahukah Anda seputar tradisi ini? Yuk cari tahu di bawah ini.

BACA JUGA : Kisah Iwe, Musisi Jalanan yang Hiasi Persimpangan Jalan Yogyakarta, Penuh Makna Menarik

BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Targetkan Akhir Tahun Pembangunan Rumah Deret Terban Akan Selesai

Tradisi Mendhem Ari-ari

Ari-ari atau plasenta merupakan organ penting yang melindungi sekaligus memberi nutrisi janin selama ia berkembang di dalam rahim.

Selepas proses kelahiran, ari-ari tetap dianggap istimewa oleh masyarakat Jawa. Oleh karena itu, mereka merasa perlu memperlakukan ari-ari dengan baik meski hanya sekali melalui prosesi mendhem (penguburan) ari-ari.

Orang yang bertugas untuk mendhem ari-ari adalah ayah dari bayi yang baru lahir tersebut. Saat prosesi berlangsung, ia harus mengenakan  busana padintenan yang lengkap dengan  blangkon gagrak Yogyakarta.

Ari-ari yang telah dibersihkan hingga tidak mengeluarkan darah dimasukkan ke dalam sebuah kendil, periuk kecil yang terbuat dari tanah liat.

BACA JUGA : Kukuhkan Dua Guru Besar, UAD Yogyakarta Harapkan Pendidikan Era Abad 21 Semakin Berkembang

BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Gandeng Bantul Untuk Pasok Beras Ke Pasar Rakyat

Selain ari-ari, dimasukkan juga berbagai macam kelengkapan, seperti kain mori, garam, jarum, benang, kertas bertuliskan huruf Jawa-Latin-Arab, dan kembang sritaman.

Ada versi lainnya juga yang ditambahkan, seperti minyak wangi, kembang boreh, kunyit, kemiri, ganthal, uang logam, lawe, beras, gereh pethek, dan daun keladi. 

Berbagai macam kelengkan tersebut  mengandung simbol dan  harapan agar kelak sang anak dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan baik.

Kategori :