Belajar Musik Tanpa Telinga, UNY Kembangkan Metode Inklusif untuk Anak Tunarungu
Penelitian terbaru Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuktikan anak tunarungu bisa belajar musik lewat metode multisensorik. Dr. Drijastuti Jogjaningrum menunjukkan musik tidak hanya bergantung pada pendengaran, tetapi juga indera visual.--dok. UNY
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Musik selama ini identik dengan bunyi dan pendengaran, namun penelitian terbaru dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuktikan hal sebaliknya.
Dr. Drijastuti Jogjaningrum, dosen Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY, menunjukkan bahwa anak tunarungu tetap bisa bermusik dengan pendekatan pembelajaran berbasis multisensori.
Penelitian ini dilakukan di SLB B YAKUT Purwokerto, melibatkan 31 siswa tunarungu berusia 8 hingga 13 tahun. Hasil riset menunjukkan bahwa musikalitas tidak hanya bergantung pada telinga, tetapi juga bisa diakses melalui indera lain, seperti penglihatan, sentuhan, dan gerak tubuh.
“Musik bukan hanya soal mendengar suara. Musik adalah pengalaman tubuh. Anak tunarungu bisa memahami ritme dan irama melalui getaran, visual, dan gerakan,” ujar Drijastuti dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).
BACA JUGA : Mahasiswa UNY Ciptakan Herbascent, Dupa Alami Ramah Lingkungan dari Batok Kelapa
BACA JUGA : Mahasiswa UNY Gelar Aksi Damai “Menjemput Ari”, Tuntut Keadilan dan Tuding Kriminalisasi Aktivis Kampus
Dalam praktik pembelajaran, siswa tidak sekadar mendengarkan musik, melainkan merasakan dan melihatnya. Getaran alat musik angklung dimanfaatkan untuk merasakan denyut dan tempo, sementara gerakan tangan, kode warna, simbol visual, dan bahasa isyarat membantu siswa memahami struktur musik.
Pendekatan ini menggabungkan tiga jalur sensorik sekaligus. Pertama, taktil, di mana siswa merasakan getaran musik secara langsung. Kedua, visual, melalui gerakan konduktor, simbol, dan warna. Ketiga, kinestetik, melalui aktivitas fisik seperti bertepuk tangan, melangkah mengikuti irama, dan memainkan alat musik.
Hasilnya cukup signifikan. Lebih dari 86 persen siswa mampu mengikuti pembelajaran musik selama 30–45 menit dengan partisipasi tinggi. Para siswa juga dapat meniru pola ritme sederhana dan merespons perubahan irama melalui gerakan tubuh.
“Selain meningkatkan kemampuan bermusik, pembelajaran berbasis multisensorik ini berdampak positif pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Anak-anak menjadi lebih percaya diri, berani mengekspresikan diri, serta mampu bekerja sama dalam aktivitas kelompok,” jelasnya.
BACA JUGA : Cerita Reni Novia Alfiyanti Raih IPK 3,97 di UNY, Hampir Putus Asa karena Masalah Kesehatan
BACA JUGA : Terbanyak Sepanjang Sejarah, UNY Wisuda 5.320 Mahasiswa
Menurut Drijastuti, praktik pendidikan musik yang terlalu menekankan aspek auditif justru membuat anak tunarungu terpinggirkan. Padahal, secara biologis, otak anak tunarungu mampu beradaptasi dengan memaksimalkan indera lain.
“Selama ini ada anggapan anak tunarungu tidak musikal. Itu keliru. Mereka memiliki potensi musikal yang sama, hanya jalur belajarnya berbeda,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: