Risiko Hujan Lebat Menguat di Awal 2026, Ini Peringatan BPBD Sleman

Risiko Hujan Lebat Menguat di Awal 2026, Ini Peringatan BPBD Sleman

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, menyampaikan imbauan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan awal 2026 di Sleman, Senin (12/1/2026).--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id - Memasuki awal tahun 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi musim penghujan. 

Curah hujan tinggi yang berpotensi disertai angin kencang dinilai masih menjadi ancaman nyata, terutama bagi kawasan permukiman padat dan lingkungan dengan infrastruktur drainase yang kurang optimal.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, mengatakan bahwa sebagian besar kejadian bencana hidrometeorologi di Sleman tidak selalu berskala besar, namun kerap muncul dalam bentuk genangan, banjir kecil, hingga pohon tumbang yang berdampak langsung pada aktivitas warga.

“Terkait imbauan menghadapi musim penghujan, kami mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap curah hujan tinggi dan potensi angin kencang,” katanya saat dimintai keterangan, Senin (12/1/2026).

Menurutnya, persoalan drainase masih menjadi titik rawan utama saat hujan turun dengan intensitas tinggi. 

Banyak kejadian genangan di lingkungan permukiman terjadi bukan karena kapasitas hujan semata, melainkan akibat saluran air yang tidak berfungsi maksimal karena tersumbat sampah atau sedimentasi.

BACA JUGA : Status Siaga Darurat Diperpanjang, BPBD Kota Yogyakarta Siagakan Posko Darurat

BACA JUGA : Jembatan Winongo Bantul Tergerus Sungai, BPBD Tutup Sementara dan Masyarakat Diminta Gunakan Jalur Alternatif

“Pastikan saluran air di lingkungan masing-masing dalam kondisi baik dan tidak tersumbat, karena banyak genangan dan banjir kecil terjadi akibat saluran yang dibiarkan tertutup,” jelasnya.

Selain drainase, BPBD Sleman juga menyoroti potensi bahaya dari pepohonan di sekitar permukiman warga. 

Pohon dengan kondisi rapuh atau tidak terawat berisiko tumbang saat hujan deras disertai angin kencang, yang dapat menimpa rumah, jaringan listrik, maupun fasilitas umum.

“Pemangkasan pohon yang berpotensi membahayakan perlu dilakukan agar tidak menimpa kabel listrik, rumah, maupun fasilitas lainnya,” ujarnya. 

Ia menambahkan, langkah mitigasi tidak hanya bergantung pada kesiapan fisik lingkungan, tetapi juga kekuatan sosial masyarakat. 

Koordinasi antarwarga dan budaya gotong royong dinilai menjadi elemen penting dalam mengurangi dampak bencana, terutama di tingkat RT dan dusun.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: