Erupsi Efusif Masih Berlangsung, BPPTKG Catat 8 Awan Panas Guguran dalam Sepekan
Awan panas guguran kembali terjadi di Gunung Merapi Sabtu (3/1/2026), BPPTKG mengungkap detail kejadian APG dengan jarak luncur sekitar 1.000 meterke arah hulu Kali Krasak, status Merapi masih Level III Siaga.--dok. BPPTKG
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Dalam periode 2–8 Januari 2026, terjadi delapan kali awan panas guguran (APG) seiring berlanjutnya erupsi efusif. Status Gunung Merapi hingga kini tetap berada pada level Siaga.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyampaikan, berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan berpotensi memicu guguran lava serta awan panas di kawasan rawan bencana.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih terjadi dan dapat memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” ujar Agus dalam laporan aktivitas Gunung Merapi, Minggu (11/1/2026).
BPPTKG mencatat delapan kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya di hulu Kali Krasak, Bebeng, dan Sat/Putih. Selain itu, aktivitas guguran lava juga teramati cukup intensif ke sejumlah alur sungai.
BACA JUGA : Awan Panas Guguran Merapi Meluncur 1 Kilometer Sore Ini di Tengah Hujan Lebat
BACA JUGA : Awan Panas Guguran Terjadi di Merapi Pagi Ini, BPPTKG Ungkap Detailnya
"Guguran lava tercatat enam kali ke hulu Kali Boyong dengan jarak maksimum 1.600 meter, 93 kali ke Kali Krasak, 25 kali ke Kali Bebeng, serta 73 kali ke Kali Sat/Putih, masing-masing dengan jarak luncur hingga 2.000 meter," tuturnya.
Dari sisi morfologi, BPPTKG mengamati adanya sedikit perubahan pada Kubah Lava Barat Daya akibat aktivitas guguran lava. Sementara Kubah Tengah terpantau relatif stabil tanpa perubahan signifikan. Berdasarkan analisis foto udara per 13 Desember 2025, volume Kubah Barat Daya mencapai sekitar 4,17 juta meter kubik, sedangkan Kubah Tengah sekitar 2,36 juta meter kubik.
Aktivitas kegempaan juga menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya. Selama periode pengamatan, terekam 8 gempa APG, 2 gempa Vulkanik Dangkal, 505 gempa Fase Banyak, 732 gempa Guguran, serta 4 gempa Tektonik.
Meski demikian, pemantauan deformasi menggunakan metode EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan signifikan. Kondisi ini menandakan tekanan magma relatif stabil, meskipun aktivitas permukaan masih berlangsung.
BACA JUGA : Merapi Masih Siaga Awal 2026, Guguran Lava Dominasi Aktivitas Sepekan
BACA JUGA : Awan Panas Guguran Merapi Terjadi Jumat Pagi, Luncur 1,5 Km ke Kali Krasak
"BPPTKG juga mencatat hujan terjadi di sekitar puncak Merapi, dengan intensitas tertinggi pada 8 Januari 2026 sebesar 40,79 mm/jam selama 61 menit. Namun, hingga kini belum dilaporkan adanya aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," imbuhnya.
Terkait potensi bahaya, BPPTKG mengingatkan ancaman guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: