Kemenkeu Percepat Redenominasi, Ekonom UMY: Tahapannya Bisa Capai 10 Tahun

Kemenkeu Percepat Redenominasi, Ekonom UMY: Tahapannya Bisa Capai 10 Tahun

Ekonom UMY, Agus Tri Basuki, menyebut kebijakan ini membutuhkan tahapan panjang hingga 10 tahun dan harus didukung stabilitas ekonomi, inflasi rendah, nilai tukar kuat, serta penguatan sektor ekspor agar redenominasi berjalan aman dan efektif.--dok. UMY

BANTUL, diswayjogja.id - Rencana Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mempercepat kebijakan redenominasi rupiah mendapat perhatian dari kalangan akademisi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar ekonomi regional, Agus Tri Basuki, menilai langkah tersebut merupakan strategi jangka panjang yang tidak dapat dilakukan secara instan.

Agus menjelaskan bahwa redenominasi bertujuan menyederhanakan nominal rupiah tanpa mengubah nilai riilnya.

“Redenominasi itu hanya mengurangi jumlah angka nol, bukan menurunkan nilai uang. Kalau dulu Rp1.000 bisa membeli satu roti, setelah redenominasi Rp1 pun nilainya tetap sama,” ujarnya di Gedung AR A UMY, Jumat (14/11/2025).

BACA JUGA : Sri Sultan Tekankan Bank Pembangunan Daerah Lakukan Transparansi Keuangan Desa

BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Terima Rapor Kinerja Keuangan dan Fisik, Hasto Sebut Keep On The Track

Dia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat, melainkan demi efisiensi sistem administrasi dan keuangan.

Namun, prosesnya membutuhkan waktu panjang. Menurutnya, Bank Indonesia telah menyiapkan empat tahap strategis sebelum kebijakan benar-benar diterapkan, yaitu tahap persiapan, tahap transisi, penarikan uang lama, dan tahap evaluasi.

“Tahapan ini penting agar masyarakat tidak bingung dan stabilitas ekonomi tetap terjaga. Implementasinya bahkan bisa memakan waktu hingga satu dekade,” jelas Agus.

Stabilitas Ekonomi Jadi Syarat Utama

Agus menekankan bahwa redenominasi hanya dapat berjalan baik ketika kondisi ekonomi nasional benar-benar stabil. Syarat tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi yang positif, inflasi terkendali di kisaran 2–3 persen, nilai tukar yang stabil, serta kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah.

BACA JUGA :  Din Syamsuddin Minta UMY Rumuskan Strategi Peradaban Global Berbasis Islam

BACA JUGA : UMY Buka Prodi AI dan Kriminologi, Jawab Tantangan Era Digital dan Sosial Modern

Dia mencontohkan negara-negara seperti Turki, Vietnam, dan Korea Selatan yang sukses menerapkan redenominasi berkat situasi politik dan ekonomi yang solid.

“Kalau defisit APBN masih tinggi atau inflasi belum stabil, redenominasi justru bisa menimbulkan risiko baru,” tegasnya.

Penguatan Ekspor Jadi Kunci Menguatkan Rupiah

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: