Ketua BEM UGM Sebut Indonesia Alami Krisis Darah Juang

Ketua BEM UGM Sebut Indonesia Alami Krisis Darah Juang

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menyampaikan pernyataan saat pemakaman pencipta Darah Juang di TPU Madurejo, Sleman, Sabtu (28/2/2026).--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

BACA JUGA : Kisah Solidaritas dan Keberanian di Balik Kepergian John Tobing

BACA JUGA : UGM Sarankan Gunakan Istilah Pangan Olahan, Bukan UPF Dalam Kebijakan MBG

Pernyataan itu menjadi titik tekan dalam prosesi pemakaman yang sarat simbol. 

Tiyo menilai semakin sedikit orang yang benar-benar menghayati semangat pengorbanan untuk kepentingan publik. 

Dalam pandangannya, darah juang bukan sekadar retorika aksi atau slogan di media sosial, melainkan komitmen yang tercermin dalam keberpihakan terhadap rakyat.

“Sangat sedikit orang di Indonesia hari ini yang benar-benar menghayati darah juang, yang mengalir di setiap tetes darahnya untuk Indonesia,” tuturnya.

Ia menegaskan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga api itu tetap menyala.

Lagu Darah Juang, menurut dia, bukan hanya dinyanyikan dalam momentum demonstrasi, tetapi juga dihayati dalam ruang-ruang diskusi, advokasi kebijakan, hingga pengawalan isu-isu publik.

BACA JUGA : Ramadan di Maskam UGM Hadirkan Tokoh Nasional, Sediakan 1.500 Porsi Buka Puasa Gratis per Hari

BACA JUGA : Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Ngaku Diteror Usai Kritik Kebijakan Presiden Prabowo

“Saya berharap orang-orang tidak melupakan Bang John Tobing sebagaimana kami berkomitmen untuk tidak melupakan beliau, bukan hanya sebagai legenda, tetapi juga sebagai pahlawan perjuangan rakyat,” ujarnya. 

Lebih jauh, ia menyampaikan pesan kepada para pemimpin Indonesia agar tidak sekadar mengingat nama besar John, melainkan meneladani konsistensi hidupnya.

“Kepada para pemimpin Indonesia, saya berharap agar tidak hanya mengingat namanya, tetapi juga menghayati kehidupannya. Karena beliau, sejak muda hingga hari ini, adalah sosok yang istiqamah dan konsisten pada darah juang yang ia tuliskan dan perjuangkan,” jelasnya. 

Usai doa terakhir dipanjatkan, keluarga dan kerabat bergantian menimbunkan tanah ke pusara. 

Bunga-bunga ditaburkan, sementara sebagian pelayat masih menyenandungkan potongan lirik Darah Juang dengan suara lirih.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: