BPPTKG: Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Suplai Magma Masih Berlangsung

BPPTKG: Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Suplai Magma Masih Berlangsung

Awan panas guguran kembali terjadi di Gunung Merapi Sabtu (3/1/2026), BPPTKG mengungkap detail kejadian APG dengan jarak luncur sekitar 1.000 meterke arah hulu Kali Krasak, status Merapi masih Level III Siaga.--dok. BPPTKG

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi dan ditandai dengan erupsi efusif, di mana status Gunung Merapi hingga kini tetap berada pada Level III atau Siaga.

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menjelaskan bahwa berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 9–15 Januari 2026, suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di wilayah rawan bahaya.

“Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya serta tenggara,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026) malam. 

Pada sektor selatan–barat daya, potensi bahaya meliputi alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Selain itu, lontaran material vulkanik saat terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.

BACA JUGA : Awan Panas Guguran Merapi Meluncur 1 Kilometer Sore Ini di Tengah Hujan Lebat

BACA JUGA : Awan Panas Guguran Terjadi di Merapi Pagi Ini, BPPTKG Ungkap Detailnya

Berdasarkan pengamatan visual, Gunung Merapi selama sepekan terakhir lebih sering tertutup kabut. Namun tercatat satu kali kemunculan asap putih dengan intensitas tipis dan tinggi sekitar 10 meter. BPPTKG juga mencatat tiga kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum 1.000 meter ke arah barat daya.

Aktivitas guguran lava terpantau terjadi ke sejumlah alur sungai, antara lain satu kali ke arah hulu Kali Boyong sejauh 1.500 meter, lima kali ke Kali Krasak sejauh 1.700 meter, 17 kali ke Kali Bebeng sejauh 1.900 meter, serta 15 kali ke Kali Sat atau Putih sejauh 2.000 meter.

Dari aspek kegempaan, selama periode pengamatan tercatat tiga kali gempa awan panas guguran, enam gempa vulkanik dangkal, 519 gempa fase banyak, 741 gempa guguran, satu gempa frekuensi rendah, serta tujuh gempa tektonik. Intensitas kegempaan ini dinilai lebih tinggi dibandingkan minggu sebelumnya.

Sementara itu, pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan signifikan, meskipun suplai magma masih terindikasi berlangsung. Volume kubah lava berdasarkan analisis foto udara Desember 2025 tercatat mencapai 4,17 juta meter kubik untuk Kubah Barat Daya dan 2,36 juta meter kubik untuk Kubah Tengah.

BACA JUGA : Merapi Masih Siaga Awal 2026, Guguran Lava Dominasi Aktivitas Sepekan

BACA JUGA : Awan Panas Guguran Merapi Terjadi Jumat Pagi, Luncur 1,5 Km ke Kali Krasak

BPPTKG juga mengingatkan potensi bahaya lahar seiring terjadinya hujan di sekitar Gunung Merapi. Pada Jumat (16/1/2026) sore, Badan Geologi mencatat hujan di lereng barat Merapi dengan curah hujan 15,25 milimeter dan durasi hampir dua jam.

“Masyarakat diimbau mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan, serta tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: