Kisah Antropolog Jepang Mitsuo Nakamura, Belajar Islam dari Warga Muhammadiyah

Kisah Antropolog Jepang Mitsuo Nakamura, Belajar Islam dari Warga Muhammadiyah

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir (kiri) menunjukkan buku Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023, karya Antropolog asal Jepang Mitsuo Nakamura (kanan), saat bertemu di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Senin (22/9/2025) malam.--Dok. PP Muhammadiyah

“Saya ingin tahu bagaimana Islam dihidupkan oleh umatnya. Muhammadiyah memberi saya jawaban itu,” ujarnya.

Setengah abad berlalu, rasa ingin tahu itu belum padam. Nakamura tetap meneliti, menulis, dan berbagi wawasan. 

BACA JUGA : Haedar Nashir Terima Anugerah Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Prabowo

BACA JUGA : Haedar Nashir Sebut KHGT Satukan Umat Islam dengan Satu Tanggal dan Satu Hari Seluruh Dunia

Dalam buku terbarunya, ia memotret transformasi Muhammadiyah dalam kurun lebih dari lima dekade, sebuah pencapaian yang sangat langka bagi peneliti asing.

Optimisme untuk Masa Depan Muhammadiyah

Nakamura melihat masa depan Muhammadiyah dengan optimisme. Ia menilai kekuatan civil society Muhammadiyah sangat unik dalam dunia Islam. 

Jejaring amal usaha, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan, adalah modal penting untuk peran global Islam Indonesia.

“Saya rasa Muhammadiyah akan terus berkembang berdasarkan amal usaha. Ini kekuatan yang sangat penting,” kata Nakamura. 

BACA JUGA : Haedar Nashir Ajak Pancasila sebagai Kompas Ideologis Etika Bernegara

BACA JUGA :  Usulan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Haedar Nashir: Bangun Dialog untuk Rekonsiliasi

Ia juga menyebut langkah internasionalisasi Muhammadiyah sebagai strategi visioner yang bisa memperkenalkan wajah Islam damai dan ramah ke dunia.

“Islam ala Indonesia bisa memberi kontribusi bagi perdamaian dunia. Muhammadiyah punya posisi strategis dalam hal itu,” tambahnya.

Sosok yang Menginspirasi Muhammadiyah

Bagi Haedar Nashir, Nakamura bukan sekadar akademisi asing. Ia adalah inspirator.

“Prof. Nakamura itu menjadi inspirator bagi keluarga besar Muhammadiyah,” kata Haedar. 

Ia mengingat bagaimana karya monumental Nakamura—hasil disertasi doktoralnya di Cornell University—telah menjadi rujukan penting dalam memahami Muhammadiyah secara ilmiah dan kontekstual.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait