Pasar Triliunan Rupiah, Tapi Petani RI Masih Tergantung Impor
Hasil pertanian lokal dipamerkan di Sleman. Sekjen Aliansi Petani Indonesia menegaskan pasar pangan Indonesia Rp500 triliun masih dikuasai impor--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Indonesia dengan jumlah penduduk 286,7 juta jiwa sesungguhnya merupakan pasar besar bagi produk pangan sehat. Namun, hingga kini kebutuhan pangan strategis masih banyak dipenuhi dari luar negeri.
Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia, Muhammad Nuruddin, menegaskan bahwa ketergantungan impor ini bukan hanya menjadi ironi, melainkan juga peluang besar yang belum dimanfaatkan maksimal oleh generasi muda di desa.
“Indonesia dengan 286,7 juta jiwa adalah pasar yang haus pangan sehat. Namun sayang, kita masih sangat bergantung pada impor,” katanya saat dihubungi media di Sleman, Minggu (21/9/2025).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian 2023 menunjukkan, 70 persen kebutuhan kedelai masih impor, 90 persen bawang putih impor, 20 persen bawang merah impor, dan 80 persen susu impor.
“Kebutuhan pangan kita yang besar masih dipenuhi dari luar negeri. Padahal, itu adalah peluang besar bagi pemuda-pemudi tani,” ucapnya.
Ia menilai, besarnya angka impor ini sekaligus menunjukkan adanya potensi pasar triliunan rupiah bagi produk lokal.
BACA JUGA : 167 Petani Bantul Ubah Pasir Jadi Lumbung Bawang Merah
BACA JUGA : Petani Muda Harus Melek Pasar, Dari Kecamatan hingga Industri Kopi dan Kakao
Jika dikelola dengan baik, desa-desa bisa menjadi pemasok utama kebutuhan pangan dalam negeri.
“Artinya ada pasar triliunan rupiah yang sebenarnya bisa diisi oleh produk-produk desa kita,” tuturnya.
Pasar Pangan Rp30 Triliun Masih Dikuasai Impor
Ia menyebut data terbaru menunjukkan pasar pangan dalam negeri sangat besar, tetapi ketergantungan terhadap produk luar negeri masih tinggi.
“Tahun 2023, pasar pangan Indonesia mencapai Rp30 triliun. Masa kita kasih kesempatan itu pada orang luar?” ujarnya.
Ia mencontohkan sektor perikanan air tawar yang menurut Outlook Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2024 nilainya mencapai Rp100 triliun. Namun, pasokan impor masih ditemukan.
“Masa kita beli dari Cina? Masa kita beli dari Vietnam?” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: