Refleksi Maulid Nabi, Haedar Nashir Sebut Keteladanan Rasulullah dalam Merawat Persatuan dan Perdamaian

Refleksi Maulid Nabi, Haedar Nashir Sebut Keteladanan Rasulullah dalam Merawat Persatuan dan Perdamaian

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebutkan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meneguhkan cinta sekaligus meneladani ajaran dan akhlak Rasulullah. --dok. PP Muhammadiyah

Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan bahwa menahan diri dari konflik lebih bermanfaat daripada memperturutkan emosi permusuhan.

Peristiwa lain yang perlu menjadi perenungan dari teladan Nabi Muhammad yakni ketika masyarakat Quraisy berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya setelah renovasi Ka‘bah. 

BACA JUGA : Muhammadiyah Ingatkan Bahaya Penyalahgunaan Kekuasaan di Usia 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia

BACA JUGA : Aksi Demonstrasi Pati, Muhammadiyah: Jangan Buat Kebijakan yang Ugal-ugalan

Perselisihan itu hampir menimbulkan pertumpahan darah antarsuku Arab yang merasa memiliki kehormatan lebih tinggi. Namun, dengan kebijaksanaan dan kearifan, Nabi Muhammad menawarkan solusi sederhana: batu suci itu diletakkan di atas bentangan kain, lalu setiap pemimpin suku bersama-sama mengangkatnya. 

Beliau sendiri yang akhirnya meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Rasulullah menjadi sosok penengah yang mampu meredam konflik, menghadirkan rasa keadilan, dan menyatukan hati banyak pihak.

“Nilai besar dari teladan Rasulullah tersebut sesungguhnya sangat relevan untuk kehidupan kita saat ini. Indonesia sebagai bangsa yang majemuk sering kali dihadapkan pada ketegangan politik, pertarungan kepentingan, dan godaan sektarianisme. Dalam dinamika sosial dan politik kita, masih sering kita saksikan bagaimana perbedaan justru dipertajam menjadi alasan untuk saling merendahkan, bahkan memecah belah,” jelas Haedar.

Haedar berpesan agar para pemimpin bangsa, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun pejabat publik, seharusnya bercermin pada keteladanan Nabi Muhammad. 

BACA JUGA : Keraton Yogyakarta Gelar Grebeg Mulud, Gunungan Brama Dikeluarkan Khusus Tahun Dal

BACA JUGA : Peringati Maulid Nabi Muhammad, Keraton Yogyakarta Gelar Rangkaian Hajad Dalem Sekaten

Rasulullah mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah alat untuk meneguhkan kepentingan pribadi atau golongan, tetapi amanah untuk menghadirkan maslahat, keadilan, dan persatuan. 

“Ketika pemimpin mengedepankan perdamaian, menumbuhkan kepercayaan, dan merangkul semua pihak, maka bangsa ini akan semakin kokoh,” tegas Haedar.

Refleksi Maulid Nabi semestinya mendorong umatnya untuk meneguhkan jiwa damai dan menyatukan umat. Umat Islam, khususnya, hendaknya menjadikan teladan Rasulullah sebagai pedoman untuk menghindari polarisasi dan konflik. 

“Jadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, menghadirkan perdamaian, dan membangun peradaban yang luhur. Dengan semangat Nabi yang menyatukan, kita bisa menghadapi tantangan kebangsaan dengan arif, sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan bermartabat,” pungkas Haedar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait