Ketika Rumah Baca Mulai Sepi, Perpustakaan Anak Menghadapi Tantangan di Era Gawai

Kamis 13-08-2026,11:59 WIB
Reporter : Dhani Irawan
Editor : Syamsul Falaq

SLEMAN, diswayjogja.id — Ribuan buku cerita anak, bundel majalah Bobo bekas, majalah pengetahuan anak hingga kumpulan cerpen untuk pelajar SD, SMP dan SMA masih tertata rapi di Rumah Baca Muara Ilmu, Balecatur, Gamping, Sleman. Namun di balik rak-rak buku yang penuh itu, tersimpan tantangan besar,  bagaimana membuat anak-anak kembali tertarik membuka halaman buku di tengah derasnya arus informasi dari telepon genggam.

Rumah Baca Muara Ilmu sejak awal memang didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan bacaan masyarakat. Pada masa awal pembukaan hingga sekitar satu tahun pertama, tempat ini sempat ramai dikunjungi anak-anak. Mereka datang untuk membaca di tempat maupun meminjam buku untuk dibawa pulang.

Buku catatan peminjaman bahkan sempat terisi penuh hingga hampir satu buku.

Namun kondisi tersebut perlahan berubah, terutama setelah pandemi Covid-19. Pengelola melihat kebiasaan anak-anak dalam mengakses informasi ikut bergeser.

BACA JUGA : Samben Library, Perpustakaan Kecil yang Diam-Diam Jadi Tujuan Mahasiswa S2, S3 hingga Peneliti Mancanegara

BACA JUGA : Dinarpusda Brebes Fasilitasi Akses LITERASIKITA, Integrasikan Digitalisasi Layanan Perpustakaan dan KIA Online

Widiyaningrum, pengelola Rumah Baca Muara Ilmu, mengatakan masa pembelajaran yang mengharuskan anak menggunakan telepon genggam turut mengubah pola keseharian mereka.

“Pasca-Covid itu memang terjadi pergeseran besar-besaran. Saat anak dipaksa menggunakan handphone dalam masa pembelajaran, akhirnya budaya penggunaan handphone menjadi semakin kuat,” kata Widiyaningrum kepada Disway Jogja, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, ketika anak sudah terbiasa mendapatkan beragam informasi secara cepat melalui media sosial, buku yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dibaca menjadi semakin kurang menarik.

“Anak-anak mulai menikmati media sosial dengan berbagai informasi yang mudah didapat. Akhirnya mereka mulai enggan kembali membaca buku yang sifatnya lebih statis, membutuhkan konsentrasi dan kadang terkesan monoton,” ujarnya.

BACA JUGA : Kabar Gembira! Perpustakaan Nyi Ageng Serang Kembali Dibuka Hingga Malam Hari

BACA JUGA : Destinasi Literasi Unggulan Perpustakaan Modern di Jakarta yang Sangat Cozy, Berikut Ulasan Lengkapnya

Padahal, lanjut Widiyaningrum, membaca buku sebenarnya memberikan pengalaman yang berbeda. Ada proses membayangkan cerita, mengikuti alur, hingga menemukan pengetahuan secara perlahan.

Kini, masih ada satu-dua anak yang datang untuk meminjam buku. Tetapi tidak jarang Rumah Baca Muara Ilmu harus melewati satu minggu tanpa seorang pun datang.

“Tetap ada satu dua yang pinjam, tetapi memang budaya baca semakin mendapatkan tantangannya. Bahkan pernah satu minggu tidak ada satupun yang mampir,” tuturnya.

Kategori :