Monsoon Australia Menguat, Suhu Dingin Melanda DIY hingga Puncak Agustus
Pagi di Wilayah Sanden, Bantul. Monsoon Australia Menguat, Suhu Dingin Melanda DIY hingga Puncak Agustus--FOTO : Dok. Warga Sanden
YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Suhu udara dingin yang dirasakan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari terakhir merupakan fenomena yang terjadi saat musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Yogyakarta menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan kembali menguatnya pengaruh Monsoon Australia.
Forecaster Stasiun Meteorologi Yogyakarta menjelaskan, Monsoon Australia merupakan pergerakan angin dari wilayah Australia menuju Asia yang melewati Indonesia. Angin tersebut membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering.
"Fenomena suhu dingin ini disebabkan karena adanya kembali menguatnya pengaruh Monsoon Australia. Monsoon Australia merupakan pergerakan angin yang berasal dari dataran Australia menuju dataran Asia yang melewati wilayah Indonesia," ujar forecaster Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, pengaruh Monsoon Australia terutama terasa di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi tersebut menyebabkan frekuensi hujan berkurang serta tutupan awan menjadi minim.
BACA JUGA : 5 Rekomendasi Wedang Ronde Surabaya, Cocok Jadi Penghangat Tubuh Saat Cuaca Dingin
BACA JUGA : 8 Kuliner Berkuah Khas Solo Paling Segar dan Nikmat, Cocok Dinikmati Saat Musim Dingin
"Monsoon Australia ini membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering sehingga ketika melewati wilayah Indonesia terutama Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, dan NTT, akan menyebabkan kejadian jarang hujan dan tutupan awan yang minim," jelasnya.
Minimnya tutupan awan membuat perbedaan suhu antara siang dan malam terasa lebih signifikan. Pada siang hari, radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi sehingga udara terasa panas dan terik.
Sebaliknya, pada malam hari tidak ada radiasi matahari. Panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari kemudian lebih cepat dilepaskan ke atmosfer karena tidak adanya tutupan awan yang cukup untuk menghambat pelepasan panas tersebut.
"Dengan tutupan awan yang minim ini, radiasi matahari pada siang hari akan langsung diteruskan ke permukaan bumi sehingga kita akan merasakan panas yang terik. Sementara saat malam hari, panas di permukaan bumi yang diterima saat siang hari akan langsung dilepaskan ke atmosfer atau angkasa tanpa adanya penghalang," katanya.
BACA JUGA : 8 Tempat Makan Bakso Legendaris Batu Malang, Dengan Cita Rasa Terenak Cocok Untuk Cuaca Dingin
BACA JUGA : Padu Padan Gaya Fashion Musim Dingin Untuk Cowok Indonesia, Bikin Makin Keren Modis dan Elegan
Fenomena suhu udara dingin yang dikenal masyarakat sebagai bediding tersebut merupakan kondisi yang lazim terjadi ketika musim kemarau. BMKG menyebut fenomena ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.
"Fenomena suhu udara dingin atau yang biasa dikenal sebagai bediding ini normal terjadi pada musim kemarau dan akan mengalami puncaknya pada Agustus ini," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: