Buku Datang dari Banyak Pihak
Menariknya, keberadaan ribuan koleksi di Rumah Baca Muara Ilmu bukan hasil pembelian besar-besaran. Sebagian besar buku berasal dari koleksi pribadi, lembaga sosial, teman sekolah, taman bacaan hingga para donatur yang memiliki kepedulian terhadap budaya membaca.
BACA JUGA : Sleman Dorong Akreditasi Perpustakaan Sekolah dan Selamatkan Naskah Kuno, Menjaga Literasi dan Identitas
BACA JUGA : Festival Literasi Bantul 2025, Perpustakaan Jadi Pusat Kreativitas dan Kehidupan Sosial
Widiyaningrum masih mengingat sejumlah pengalaman unik ketika mengelola rumah baca tersebut. Salah satunya ketika tiba-tiba datang sebuah paket berisi buku-buku lengkap tanpa mencantumkan nama pengirim.
“Dulu bahkan kita sempat kaget. Tiba-tiba ada kiriman paket buku lengkap, kalau dihitung harga di pasaran sampai jutaan rupiah. Paket itu datang diantarkan kurir tanpa nama,” ungkapnya.
Beberapa hari kemudian, barulah diketahui siapa orang yang mengirimkan buku tersebut.
Cerita lainnya datang dari seorang teman kuliah Widiyaningrum yang kini bekerja di Sumatera. Temannya itu mengirimkan puluhan buku lawas seri Lima Sekawan karya Enid Blyton.
BACA JUGA : Kunjungan Perpustakaan Kota Yogyakarta Naik Signifikan, Indeks Gemar Membaca Capai Target
BACA JUGA : Bank Mandiri Taspen Jalin MoU Dengan IPB University, Perkuat Literasi Keuangan dan Pengembangan SDM
Buku-buku tersebut kini menjadi bagian dari koleksi Rumah Baca Muara Ilmu, berdampingan dengan majalah dan berbagai bacaan anak lainnya.
Koleksi yang terus bertambah itu menjadi semacam jejak kepedulian banyak orang terhadap budaya membaca. Namun tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menyediakan buku.
Persoalannya adalah bagaimana membuat anak kembali datang, duduk, membuka halaman demi halaman dan menikmati cerita tanpa harus berpindah ke layar berikutnya dalam hitungan detik.
“Sekarang tantangannya bukan hanya bagaimana menyediakan buku, tetapi bagaimana membuat anak tertarik lagi untuk membaca buku,” kata Widiyaningrum.
Rak-rak buku di Rumah Baca Muara Ilmu pun seolah menjadi saksi perubahan zaman. Buku-buku masih ada, lengkap dan siap dibaca. Yang semakin sulit ditemukan justru anak-anak yang datang untuk membacanya.