Curhat Pengelola Senopati Jogja: QRIS Sukses, Tapi Parkir Bus Dilarang

Kamis 02-04-2026,06:13 WIB
Reporter : Anam AK
Editor : Syamsul Falaq

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Di balik penghargaan penerapan pembayaran digital QRIS di kawasan Parkir Senopati, tersimpan kisah pilu para pengelola parkir yang kini kehilangan mata pencaharian akibat larangan bus masuk.

Ketua Paguyuban Parkir Senopati, Hardjito, mengaku penghargaan yang diterima justru diiringi kesedihan mendalam. Dia bahkan tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kondisi rekan-rekannya.

“Saya betul-betul menangis. Penghargaan itu bukan haru bahagia, tapi haru penderitaan. Kurang lebih 1.500 jiwa yang mengandalkan parkir itu sekarang tidak tahu arahnya ke mana,” ungkap Hardjito, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, keberhasilan penerapan sistem pembayaran QRIS tidak lepas dari arahan Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta. Sosialisasi dilakukan bertahap hingga akhirnya sebagian besar operator bus terbiasa menggunakan metode pembayaran non-tunai tersebut.

BACA JUGA : Bus Pariwisata Dilarang Masuk Parkir Senopati Mulai 14 Maret, Ini Aturan Baru di Malioboro

BACA JUGA : Parkir Bus Dialihkan, Eks Menara Kopi Kotabaru Kembali Hidup Saat Libur Lebaran 2026

“Sekitar 60 persen PO bus yang ke Jogja sudah kami kenal. Sosialisasi berjalan sambil praktik, dan akhirnya semua bisa menggunakan QRIS,” katanya.

Namun, situasi berubah drastis setelah kebijakan pelarangan bus masuk kawasan tersebut diberlakukan. Dampaknya, aktivitas parkir menurun drastis dan penghasilan para pekerja hilang.

“Hampir setiap hari ada 10 sampai 20 laporan dari teman-teman yang bertanya ‘pripun-pripun’. Mereka harus tetap makan, bayar cicilan bank, tapi sekarang kehilangan penghasilan,” jelasnya.

Hardjito menilai kebijakan tersebut diambil secara mendadak tanpa komunikasi dengan para pelaku di lapangan.

BACA JUGA : Malioboro Ditutup 2 April, Kirab HUT ke-80 Sri Sultan HB X Libatkan 12 Ribu Peserta

BACA JUGA : Ledakan Teras Malioboro 1, Pengelola Minta Maaf dan Tanggung Biaya Korban

“Kita seperti ikan yang langsung disetrum. Tidak ada diskusi sama sekali. Harusnya ada jeda waktu supaya kami bisa bersiap,” tuturnya.

Dia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut, mengingat dampaknya bukan hanya soal parkir, tetapi menyangkut kehidupan ribuan orang.

“Saya harap Bapak-Bapak di atas bisa luluh hatinya. Ini bukan sekadar parkir, tapi untuk mempertahankan hidup kami,” imbuhnya.

Kategori :