BACA JUGA : Jelang Ramadan 2026, Harga Cabai Rawit di Pasar Beringharjo Tembus Rp90 Ribu
Ia menambahkan, pasar tradisional harus menjadi ruang ekonomi yang hidup dan kompetitif, bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga pusat interaksi sosial masyarakat.
“Melalui GEMPAR dan Grebeg Pasar Takjil, kami ingin menggiatkan kembali ekonomi lokal. Ketika ASN hadir dan berbelanja, itu menjadi stimulus bagi perputaran uang di pasar rakyat,” tuturnya.
Sekda Sleman, Susmiarto, mengatakan Grebeg Pasar Takjil bukan sekadar agenda belanja bersama, melainkan ruang pertemuan antara pemerintah dan masyarakat.
“Grebeg Pasar Takjil adalah momen silaturahmi antara masyarakat dan Pemkab Sleman,” ujarnya.
Ia menegaskan, Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mempererat hubungan sosial sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.
Atas nama Pemkab Sleman, ia juga menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada masyarakat.
BACA JUGA : Menjelajahi Cita Rasa Wisata Kuliner Siang Hari di Kawasan Pasar Gede Solo
BACA JUGA : Destinasi Wisata Terjangkau di Sekitar Stasiun Pasar Senen Menjelajahi Sisi Lain Jakarta Pusat
“Kami mewakili Pemkab Sleman mengucapkan selamat memasuki Ramadhan sekaligus mengapresiasi antusias masyarakat dalam merayakan Ramadhan melalui Pasar Takjil di Pasar Kejambon ini,” jelasnya.
Menurutnya, pasar tradisional harus terus dijaga sebagai pusat aktivitas ekonomi warga.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merawat dan menghidupkan pasar rakyat agar tetap menjadi pilihan utama berbelanja.
“Mari bersama-sama jaga pasar kita agar masyarakat tetap menggiatkan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.
Grebeg Pasar Takjil, lanjut dia, secara khusus digelar untuk membantu pedagang kecil meningkatkan omzet selama bulan puasa.
Tradisi nglarisi atau memborong dagangan menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah kepada pelaku usaha mikro.
BACA JUGA : Jejak Manis Es Dawet Telasih Bu Dermi Jadi Primadona Kuliner Legendaris di Pasar Gede Solo