BACA JUGA : Dukung Lingkungan Hijau, KKNM UNY Bagikan dan Tanam Bibit di Desa Balecatur
Pria kelahiran Tasikmalaya tersebut pernah bekerja di warung makan, kafe, hingga hotel demi memenuhi kebutuhan hidup dan membayar uang kuliah tunggal (UKT).
Ia membagi waktu antara kuliah, organisasi, lomba, dan pekerjaan paruh waktu.
“Saya pernah berada di titik harus memikirkan biaya kuliah sendiri. Itu yang membuat saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada,” ucapnya.
Beasiswa Djarum yang kini ia terima memberikan uang saku bulanan yang sangat membantu meringankan beban finansialnya.
Namun bagi Aldi, manfaat terbesar justru terletak pada proses dan pembinaan yang menyertainya.
Menurutnya, seleksi Beasiswa Djarum tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga karakter, wawasan kebangsaan, serta kesiapan mental.
BACA JUGA : Mahasiswa UNY Ciptakan Herbascent, Dupa Alami Ramah Lingkungan dari Batok Kelapa
BACA JUGA : Mahasiswa UNY Gelar Aksi Damai “Menjemput Ari”, Tuntut Keadilan dan Tuding Kriminalisasi Aktivis Kampus
Tahapannya meliputi tes pengetahuan umum, tes psikologi, hingga wawancara mendalam.
“Seleksinya ketat, tetapi di situlah kita belajar mengenal diri sendiri. Selain bantuan finansial, ada pelatihan karakter dan jejaring yang luas. Itu yang membuat beasiswa ini sangat berharga,” tuturnya.
Ia percaya bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Ia menekankan pentingnya keberanian mencoba, termasuk mengikuti kegiatan yang tidak selalu linier dengan jurusan yang diambil.
Baginya, mahasiswa olahraga pun bisa berprestasi di ruang debat, advokasi, maupun forum kepemudaan.
Ia juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kepemudaan, termasuk forum dan kongres pemuda.
BACA JUGA : UGM dan UNY Berlakukan Perkuliahan Daring Selama Empat Hari, Imbas Demonstrasi di Yogyakarta