SLEMAN, diswayjogja.id – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan terjadinya awan panas guguran (APG) pada Jumat (30/1/2026).
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dua kali kejadian APG dengan jarak luncur hingga 1.500 meter ke arah barat daya.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengungkapkan awan panas guguran pertama terjadi pada pukul 02.26 WIB dengan amplitudo maksimum 101 mm dan durasi 102 detik. APG kembali terjadi pada pukul 10.25 WIB dengan amplitudo maksimum 54 mm dan durasi 131 detik.
“Estimasi jarak luncur awan panas guguran mencapai sekitar 1.500 meter ke arah barat daya atau hulu Kali Sat/Putih,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).
BACA JUGA : Dua Kali Gempa Terasa di Sekitar Merapi, BPPTKG Pastikan Aktivitas Gunung Stabil
BACA JUGA : Merapi Tetap Siaga, Data BPPTKG Ungkap Ratusan Gempa dan Guguran Lava
Selain APG, aktivitas Gunung Merapi juga ditandai dengan 31 kali guguran lava dengan amplitudo 2–21 mm dan durasi 51–141 detik. Tercatat pula 31 kali gempa hybrid/fase banyak serta satu gempa tektonik jauh.
Dalam laporan aktivitas gunungapi periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB, BPPTKG menyebutkan kondisi cuaca cerah hingga berawan dengan arah angin ke barat. Secara visual, puncak Gunung Merapi tampak jelas tanpa teramati asap kawah.
BPPTKG menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran yang mengarah ke sektor selatan hingga barat daya.
Daerah yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
BACA JUGA : Awan Panas Guguran Terjadi di Gunung Merapi, Luncur 1 Kilometer ke Barat Daya
BACA JUGA : BPPTKG: Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Suplai Magma Masih Berlangsung
Selain itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. BPPTKG juga mengingatkan potensi bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi terjadinya awan panas guguran masih ada,” jelas Agus.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah potensi bahaya dan tetap waspada terhadap ancaman awan panas, lahar, serta gangguan abu vulkanik.