Wamenkes Soroti Kekurangan Tenaga Gizi untuk Dukung Program Stunting

Jumat 30-01-2026,11:14 WIB
Reporter : Kristiani Tandi Rani
Editor : Syamsul Falaq

BACA JUGA : Cegah Super Flu di Lingkungan Kampus, Pakar UMY Ingatkan Vaksinasi dan Protokol Kesehatan

Menurutnya, peran lintas profesi menjadi kunci dalam memastikan program berjalan efektif hingga ke pelosok.

"Untuk menjaga dan mengawal makanan itu supaya tetap baik, diperlukan ahli gizi, ahli kesehatan lingkungan, ahli keuangan, serta kepala SPPG dan para karyawannya," ujarnya.

Ia menambahkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak di lapangan. 

Menurut dia, kekurangan sumber daya manusia ini berpotensi memengaruhi kualitas pengawalan distribusi makanan bergizi hingga ke tingkat pelayanan paling bawah.

"Ternyata, mencari ahli gizi dan ahli kesehatan lingkungan jumlahnya belum mencukupi," imbuhnya. 

Ia mengungkapkan, sejumlah tokoh dan tenaga kesehatan telah menyampaikan langsung kepadanya mengenai keterbatasan tersebut.

BACA JUGA : Bantul Perkuat Layanan Kesehatan di Tengah Tekanan Fiskal, Andalkan KRIS dan Kolaborasi RS Swasta

BACA JUGA : Bantul Benahi Data Jaminan Kesehatan, Bidik Kemiskinan Turun ke 9% pada 2026

Menurutnya, idealnya setiap SPPG memiliki minimal satu tenaga ahli yang benar-benar kompeten di bidangnya agar pengawasan kualitas makanan dan aspek lingkungan dapat berjalan optimal.

"Prof.Dadan Hindayana (Kepala Badan Gizi Nasional) datang kepada saya, begitu juga Dokter Benny, dan mereka meminta agar satu SPPG minimal memiliki satu tenaga ahli. Ini lima saja dapat satu sudah syukur," jelasnya.

Benjamin menjelaskan, sebagai langkah sementara untuk menutup kekosongan, pemerintah membuka ruang bagi tenaga ahli kesehatan masyarakat untuk diperbantukan di SPPG. 

Meski tidak memiliki kedalaman keilmuan yang sama dengan ahli kesehatan lingkungan, mereka dinilai memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk membantu pengawasan dan pendampingan di lapangan.

"Nah, akhirnya sekarang ahli kesehatan masyarakat boleh diperbantukan untuk mengisi kekosongan, karena mereka juga punya pengetahuan meskipun tidak sedalam ahli kesehatan lingkungan," lanjutnya.

Lebih jauh, ia menilai kondisi ini sekaligus menjadi cerminan perkembangan Indonesia sebagai negara yang terus bergerak menuju kemajuan. 

BACA JUGA : Akses Sulit, UMY Rescue Tetap Layani Kesehatan Warga Terdampak Banjir Aceh Tengah

Kategori :