Ia menjelaskan, ekosistem pangan yang dibangun melalui Lumbung Mataraman mampu menopang kebutuhan bahan pangan sekaligus menjawab salah satu poin Asta Cita Presiden, terutama dalam penyediaan pangan bergizi berbasis lokal.
“Kalau perlu ayam, telur, cabai, atau sayuran, semuanya sudah disiapkan oleh Lumbung Mataraman yang dikelola BUMKal, ditambah dengan Koperasi Merah Putih," lanjutnya.
Menurutnya, keunggulan DIY juga terlihat pada pendekatan pembangunan yang menekankan pemberdayaan masyarakat.
Ia mencontohkan, pembangunan infrastruktur seperti jalan tidak selalu harus dikerjakan sepenuhnya oleh kontraktor.
“Di Yogyakarta, pembangunan jalan bisa melalui karya masyarakat. Dengan begitu, keistimewaan benar-benar dirasakan dan hasilnya justru lebih baik," pungkasnya.
Ia mengakui, pendekatan tersebut kerap menjadi bahan diskusi intensif dengan pejabat kementerian, mulai dari Kementerian Pertanian hingga Kementerian Dalam Negeri.
BACA JUGA : Wisata DIY Ramai, Pemerintah Waspadai Kualitas dan Arah Jangka Panjang
BACA JUGA : Tak Masuk UPS Lagi, Sampah Organik Yogyakarta Ditargetkan Tuntas di Kelurahan 2026
Namun, ia menilai dialog tersebut penting untuk menunjukkan praktik baik yang telah berjalan di DIY.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa gotong royong dan pemberdayaan masyarakat di Yogyakarta bukan sekadar slogan, melainkan telah terwujud dalam praktik pembangunan sehari-hari.
“Pemberdayaan masyarakat dan gotong royong di Yogyakarta benar-benar terjadi dan itu sebabnya kita terus meraih juara satu, baik di tingkat desa maupun kelurahan,” tandasnya.