YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Tahun 2026 menjadi fase krusial bagi sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Di tengah upaya pemulihan kunjungan wisata, pelaku industri justru dihadapkan pada tekanan yang semakin kompleks, mulai dari persaingan tarif hingga lonjakan biaya operasional.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti, menyebut tahun 2026 hadir pada momentum yang tidak mudah bagi pariwisata Jogja.
Menurutnya, kondisi ini perlu disikapi secara jujur sekaligus strategis agar pariwisata tetap berkelanjutan.
"Tahun 2026 hadir pada momentum yang sangat menantang. Pariwisata di Jogja sedang berada dalam fase transisi, di mana jumlah kunjungan masih membutuhkan pertumbuhan, sementara tekanan terhadap pelaku usaha semakin nyata,” katanya, Rabu (14/1/2026).
BACA JUGA : Wisata DIY Ramai, Pemerintah Waspadai Kualitas dan Arah Jangka Panjang
BACA JUGA : DIY Catat 2,27 Juta Wisatawan saat Nataru 2025, Fokus Kualitas Layanan
Ia menjelaskan, tantangan tersebut terlihat dari tingkat hunian yang belum merata di berbagai wilayah, kompetisi tarif yang kian ketat, hingga meningkatnya biaya operasional yang memengaruhi daya tahan usaha hotel dan restoran.
"Tingkat hunian yang belum merata, kompetisi tarif yang semakin ketat, serta meningkatnya biaya operasional menjadi realitas yang harus kita hadapi secara jujur dan strategis,” ucapnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti perubahan perilaku wisatawan yang semakin signifikan.
Wisatawan saat ini cenderung memilih kunjungan singkat, lebih sensitif terhadap harga, serta menuntut pengalaman yang autentik dan berkelanjutan.
Perubahan ini, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa industri pariwisata tidak bisa lagi mengandalkan pola lama.
BACA JUGA : Bajaj Maxride Gandeng Komunitas BAJURI, Perkuat Layanan Transportasi dan Pariwisata Jogja
BACA JUGA : Menjelajahi Surga Wisata Kuliner Keluarga di Lereng Bandung, Simak Informasi Selengkapnya Disini
Transformasi menjadi sebuah keharusan, khususnya bagi hotel dan restoran di DIY.