Okupansi Hotel Jogja Turun Awal Ramadan, PHRI DIY Incar Wisatawan Malaysia-Singapura

Okupansi Hotel Jogja Turun Awal Ramadan, PHRI DIY Incar Wisatawan Malaysia-Singapura

Salah satu ketersediaan atau tiper kamar hotel di salah satu kawasan Pakualaman, Kota Yogyakarta, atau sekitar 800 meter dari kawasan Malioboro. --Foto: Anam AK/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta membidik kunjungan wisatawan mancanegara untuk menjaga tingkat hunian hotel selama Ramadhan 1447 Hijriah.

Wakil Ketua PHRI DIY Bidang Promosi dan Event, Muhtar Habibi mengatakan sejumlah wisatawan asing sebenarnya sudah mulai masuk ke Yogyakarta, meski jumlahnya belum signifikan.

"Ada beberapa yang dari luar sudah masuk sebenarnya, tetapi belum begitu signifikan," ujar Habibi, Kamis (19/2/2026).

Menurutnya, wisatawan mancanegara yang datang ke DIY saat ini didominasi dari kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

BACA JUGA : PHRI Petakan Tantangan Industri Hotel DIY Menuju 2026

BACA JUGA : Embarkasi Haji Resmi di Kulon Progo, PHRI Optimistis Okupansi Hotel Naik

"Sebagian besar dari Asia Tenggara. Mungkin yang banyak selama puasa ini dari Malaysia, Singapura, sama Thailand," katanya.

Habibi mengakui tingkat okupansi hotel mulai mengalami penurunan memasuki awal Ramadhan. Padahal pada periode 1–16 Februari 2026, rata-rata hunian hotel di DIY masih berada di kisaran 65 persen.

Namun, dalam beberapa hari ke depan, okupansi diperkirakan turun drastis hingga di bawah 15 persen. Bahkan sebagian hotel diprediksi mencatat hunian di bawah 10 persen.

"Itu sudah terjadi lima tahunan ini. Awal puasa kita itu pasti 'low'," terangnya.

Untuk menahan penurunan tersebut, hotel-hotel anggota PHRI DIY menyiapkan berbagai promo Ramadhan, termasuk penyesuaian tarif kamar.

BACA JUGA : Okupansi Hotel di DIY Capai 70 Persen Saat Long Weekend Maulid Nabi, PHRI: Jogja Tetap Aman dan Adem

BACA JUGA : Ramadan 2026, Pertamina Guyur 1,1 Juta Tabung LPG 3 Kg untuk Jateng-DIY

Habibi menyebut tidak ada aturan baku terkait batas bawah penurunan tarif karena masing-masing hotel memiliki strategi bisnis dan perhitungan tersendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: