Lana menegaskan super flu tergolong self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya, tergantung pada kondisi daya tahan tubuh masing-masing individu. Namun, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik dalam dua hingga tiga hari.
BACA JUGA : Banyak Anak Alami Flu Berkepanjangan, Dinkes Jogja Temukan Kluster di Sekolah
BACA JUGA : Waspada Penyakit Musim Hujan, Kasus Influenza dan Leptospirosis Naik di Yogyakarta
“Kalau 2–3 hari masih ada gejala, sebaiknya ke faskes untuk mendapatkan obat sesuai gejala, seperti obat flu, batuk, penurun panas, atau pereda nyeri,” terangnya.
Terkait isu tingkat kebahayaan super flu, Dinkes memastikan penyakit ini tidak menyerang saluran pernapasan bawah seperti COVID-19, melainkan hanya saluran pernapasan atas. Karena tidak menimbulkan kegawatan seperti pandemi COVID-19, pemeriksaan laboratorium dilakukan secara sampling melalui sistem sentinel di fasyankes tertentu.
“Super flu ini gejalanya memang bisa lebih berat dan durasinya lebih lama dari flu biasa, tapi tidak menyebabkan kematian cepat seperti COVID-19. Karena itu Keniaan pemeriksaan dilakukan secara sentinel,” terang Lana.
Ia menambahkan, kelompok dengan komorbid seperti hipertensi dan diabetes tetap perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, tren penyakit tidak menular seperti darah tinggi dan kencing manis terus meningkat dan dapat memperparah kondisi jika terinfeksi penyakit menular.
BACA JUGA : Hasil Lab Keracunan Mahasiswa Ditunggu 7 Hari, Dinkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
BACA JUGA : Januari Hingga Oktober 2025, Dinkesda Brebes Temukan 126 Kasus Baru HIV/ AIDS
“Pengelolaan penyakit tidak menular sangat penting. Sekarang banyak anak muda bahkan usia belasan tahun sudah mengalami diabetes dan komplikasi berat. Ini juga terkait gaya hidup,” imbuhnya
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Lana mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis (CKG) yang dicanangkan pemerintah, di mana setiap warga dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan minimal satu kali dalam setahun.
“Dengan menjaga gaya hidup sehat dan rutin cek kesehatan, risiko penyakit menular maupun tidak menular bisa ditekan,” pungkasnya.