Super Flu Tak Sebahaya COVID-19, Dinkes Yogyakarta Tekankan PHBS dan Istirahat Cukup

Super Flu Tak Sebahaya COVID-19, Dinkes Yogyakarta Tekankan PHBS dan Istirahat Cukup

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, menegaskan super flu tidak sebahaya COVID-19 dan masyarakat diimbau tetap waspada dengan menerapkan PHBS.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menekankan bahwa penyakit influenza varian baru atau yang dikenal sebagai super flu tidak memiliki tingkat bahaya seperti COVID-19.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mencukupi waktu istirahat

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, mengatakan super flu termasuk penyakit menular yang mudah menyebar, terutama kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta atau komorbid

“Yang paling penting adalah makan makanan bergizi dan istirahat cukup. Karena ini penyakit menular, penularannya mudah terjadi pada orang-orang di sekitar, khususnya kelompok rentan dan komorbid,” ungkap Lana dalam konferensi pers di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Jumat (9/1/2026).

BACA JUGA : Super Flu Varian Baru Muncul, Menkes Budi: Bukan COVID dan Tidak Perlu Panik

BACA JUGA : Cegah Super Flu di Lingkungan Kampus, Pakar UMY Ingatkan Vaksinasi dan Protokol Kesehatan

Menurutnya, penerapan PHBS masih sangat relevan untuk mencegah penularan super flu. Penggunaan masker dianjurkan saat seseorang sedang sakit atau berada di kerumunan.

“Kalau sakit, pakai masker. Saat berada di kerumunan juga sangat dianjurkan menggunakan masker karena itu membantu mencegah penularan,” ujarnya.

Dinkes mencatat tren peningkatan kasus flu terjadi pada pertengahan tahun, khususnya pada September hingga Oktober. Pada periode tersebut, kasus flu terlihat lebih berat dari biasanya dan berlangsung lebih lama. Selain itu, ditemukan pula beberapa klaster penularan di lingkungan sekolah.

“Kami menerima laporan adanya klaster di sekolah, artinya cukup banyak anak dalam satu kelompok mengalami gejala yang sama. Imbauannya melalui puskesmas, anak-anak yang sakit diminta segera istirahat agar tidak menularkan ke yang lain,” kata Lana.

BACA JUGA : Dinkes DIY Konfirmasi Satu Kasus Super Flu H3N2 Subclade K, Pasien Bayi Sudah Sembuh

BACA JUGA : Muncul Super Flu Varian Baru, Dinkes Kota Yogyakarta Pastikan Belum Ada Lonjakan Kasus

Meski sempat meningkat pada September–Oktober, Lana menyebut tren kasus saat ini menunjukkan penurunan. Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Kota Yogyakarta, peningkatan yang tercatat lebih mengarah pada kasus ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut secara umum.

Terkait potensi lonjakan kasus pasca libur panjang dan meningkatnya kunjungan wisatawan, Dinkes menilai kemungkinan tersebut ada, namun belum dapat dipastikan. Masa inkubasi penyakit diperkirakan berlangsung sekitar satu hingga dua minggu setelah terjadinya interaksi dan mobilitas tinggi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: