Canting dan Cinta, Kisah Martini Menghidupi Keluarga Lewat Batik Giriloyo

Sabtu 03-01-2026,19:11 WIB
Reporter : Kristiani Tandi Rani
Editor : Syamsul Falaq

BACA JUGA : Menjelajahi Ruang Pameran dan Prosedur Kunjungan Museum Batik Indonesia, Simak Ulasan Selengkapnya Disini

Aktivitas membatik kerap dilakukan pada malam hari atau selepas pulang kerja. 

Pengerjaan dilakukan santai di rumah, sehingga menjadi bagian dari keseharian keluarga. “Biasanya dikerjakan malam hari atau setelah pulang kerja, jadi dilakukan sambil istirahat di rumah. Intinya bisa membagi waktu antara membatik dan aktivitas lain,” jelasnya.

Minat anak muda terhadap batik tidak seragam. Sebagian tertarik karena memiliki dasar keterampilan atau ketertarikan pada seni, sementara yang lain memilih menekuni pekerjaan di luar batik. 

Meski demikian, peran perempuan masih mendominasi proses produksi batik tulis Giriloyo.

“Sebagian ada yang tertarik, terutama yang memang sudah punya dasar atau minat. Tapi ada juga yang tidak, karena mereka memilih pekerjaan lain. Iya, mayoritas perempuan,” imbuhnya.

BACA JUGA : Kota-Kota Pusat Batik dengan Identitas Unik di Indonesia, Simak Referensi Selengkapnya Berikut Ini

BACA JUGA : Libatkan 300 UMKM Lokal, Pusat Oleh-Oleh Batik Putra Boko Hadir di Prambanan

Untuk satu karya batik tulis, nilai akhir bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah, bergantung tingkat kesulitan motif. 

Pengerjaan dilakukan bertahap dan memerlukan ketelatenan tinggi. Di tengah dinamika pilihan generasi muda, para perempuan Giriloyo tetap menjaga napas tradisi, pelan, konsisten, dan berdampingan dengan kehidupan sehari-hari.

Kategori :