40 Tahun Menjaga Batik Giriloyo, Martini Hidupi Keluarga dari Canting Rumahan

40 Tahun Menjaga Batik Giriloyo, Martini Hidupi Keluarga dari Canting Rumahan

Martini, pembatik batik tulis di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, tampak membatik --Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

BANTUL, diswayjogja.id - Di sebuah rumah sederhana di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Imogiri, aroma malam batik dan bunyi halus canting yang menyentuh kain masih menjadi bagian keseharian Martini. 

Perempuan 65 tahun itu telah memegang canting sejak remaja, sebuah perjalanan sunyi yang kini sudah melampaui empat dekade.

Martini mulai belajar membatik ketika usianya baru menginjak sekitar 15–20 tahun. 

Dari tangan-tangan terampilnya, motif-motif tradisi Giriloyo tetap hidup, diwariskan dari generasi ke generasi tanpa banyak suara. 

“Kurang lebih sudah 40 tahun,” katanya pelan, sambil menatap kain mori yang belum sepenuhnya bermotif.

Di Giriloyo, tradisi membatik bukan hanya kerja, melainkan cara bertahan sekaligus merawat warisan budaya. 

BACA JUGA : Batik Metaflora Pekalongan, Dari Canting ke AI: Success Story UMKM Binaan BI Tegal

BACA JUGA : JFP 2025, Batik dan Lurik Sleman Jadi Primadona Baru Fashion Nasional

Para pembatik tidak bekerja di satu tempat. Mereka membawa batik sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga. 

“Iya, kami membatik di rumah masing-masing. Di sini hanya kumpul untuk koordinasi, selebihnya dikerjakan di rumah,” ucapnya.

Sejak 2008, geliat batik Giriloyo kembali tumbuh melalui berbagai program pendampingan ekonomi kreatif. 

Ia menjadi bagian dari kebangkitan itu, tetap konsisten bekerja dari rumah meski usianya kian menua. 

“Sejak tahun 2008, sekitar 2008–2009 mulai aktif sampai sekarang,” tuturnya.

Baginya, rasa lelah seolah terbayar setiap kali selembar kain selesai melalui proses panjang, dari nglowong, isen-isen, hingga pewarnaan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: