SLEMAN, diswayjogja.id - Di sebuah sudut Dusun Beji, Kabupaten Sleman, suara jarum dan kain masih berpadu di meja kerja seorang perajin blangkon sepuh.
Di tengah arus mode modern, ia tetap setia mempertahankan pakem lama, terutama pada detail kecil yang disebut jengkir, hiasan di bagian atas blangkon yang sarat makna.
Dari ruang kecil itu, tradisi seolah memanggil pulang, menjadi magnet yang membuat orang kembali melihat akar budaya Jawa yang penuh simbol.
Muhammad Khoirudin, perajin blangkon tertua di dusun Beji, menunjukkan sebuah blangkon tua dengan dua tonjolan kecil di bagian puncaknya.
Bagi sebagian orang, detail itu mungkin hanya ornamen. Namun baginya, dua jengkir memiliki filosofi yang melekat pada keyakinan dan perjalanan tradisi.
BACA JUGA : Makna Iman di Balik Lipatan Blangkon Sleman
BACA JUGA : Magnet Tradisi dari Beji Sleman, Rahasia 17 Lipatan dan Filosofi Blangkon
“Duanya, ini jengkirnya ada dua,” katanya sambil menepuk pelan bagian atas blangkon, Sabtu (3/1/2025).
Ia menuturkan, pada masa lalu, blangkon umumnya hanya memiliki satu jengkir. Perubahan jumlah itu bukan tanpa arti.
“Biasa yang jahil cuma satu, tapi dua ini menggambarkan kita mengikuti utusan Nabi Muhammad,” ucapnya.
Di titik inilah, kerajinan tangan bertemu nilai spiritual, detail kecil menjadi simbol ketaatan, bukan sekadar gaya.
Meski kaya makna, motif-motif lama mulai jarang ditemukan di pasar.
BACA JUGA : Blangkon Beji Bangkit, Media dan Pemkab Sleman Bersinergi Promosikan Warisan Budaya
BACA JUGA : Blangkon Beji, Warisan Turun-Temurun yang Hidup di Ujung Timur Godean
Tren busana dan selera pelanggan berubah, membuat sebagian simbol perlahan tersingkir dari produksi masa kini.