“Sekarang motifnya sudah jarang dipakai,” tuturnya.
Ia menyebut, dahulu ada ragam motif khas, dari pahit menurun hingga variasi yang kini disebut sebagai versi 4D yang memberi karakter unik pada setiap blangkon.
Bagi sang perajin, hilangnya motif bukan sekadar perubahan estetika, tetapi juga pergeseran cara generasi baru memaknai tradisi.
Namun, selama masih ada tangan-tangan yang setia merawat teknik lama, ia percaya makna itu tidak benar-benar pergi.
BACA JUGA : Taman Semar Ndalil Sleman, Model Ketahanan Pangan Desa
BACA JUGA : Polresta Sleman Selidiki Keributan Parkir Condongcatur
Blangkon tetap menjadi ruang perjumpaan antara budaya, kepercayaan, dan ketekunan.
Di ruang kerjanya yang sederhana, lipatan demi lipatan terus diselesaikan dalam diam.
Setiap karya yang lahir bukan hanya produk, melainkan pengingat bahwa tradisi masih bernapas, pelan, namun pasti, sebagai magnet yang menjaga jati diri di tengah zaman yang terus bergerak.